Arsip Kategori: Religious Education

Jangan Mudah Katakan Ingin Mati


13275101922118226064

Aku sering berpikir jika aku mempunyai masalah besar atau banyak yang ku pikirkan dan hal hal tidak nyaman bagi aku, aku sering bilang ingin mati saja, mungkin dengan mati aku bisa meninggalkan beban tersebut. apakah ada dari kalian yang pernah berpikir seperti itu, aku adalah salah satunya yang berpikir seperti itu. jika ada hal membuat aku tak begitu nyaman ataupun membuatku buruk aku akan selalu bilang “mengapa aku hidup kalau harus begini ” ” aku hanya ingin mati saja “. tapi aku sekarang sudah tidak berpikir begitu, seharusnya aku mensyukuri apa yang ada dihidupku sekarang, ada keluarga ( meskipun tidak tinggal 1 rumah), ada saudara , ada teman yang selalu mendukung saya.meskipun kadang dari mereka yang membuatku buruk tapi aku menghilangkan pikiran tersebut jika aku baik-baik saja

Aku bersyukur allah masih memberikan kesempatan untuk memberiku  umur sampai segini,sehingga aku dapat melihat lebih lama kehidupan ku ini, meskipun didunia ini hanya sementara Aku menulis ini hanya untuk mengingatkanku bahwa aku :tidak boleh mengatakan ingin cepat mati ” kenapa karena aku telat melaluinya, bukan melaluinya hampir melalulinyahal ini terjadi ketika aku naik kendaraan umum untuk tujuan latumenten – grogol kejadiannya sekitar jam 19.00 WIB, aku tidak berpikir akan terjadi seperti itu.jalan yang ku lewati begitu macet parah hingga jalannya tersendat-sendat, tidak lama kemudian bisa kami melewati rel kereta api ,setelah itu ada pemberitahuan akan adanya kereta api lewat aku pikir aku sudah melewatinya (rel) karena sang supir sudah berjalan lebih jauh dari rel tersebut, menjelang kereta lewat, aku dan penumpang lain hanya seperti biasa menunggu jalannya bus tapi dari samping bus kami tumpangi terasa di di ketuk-ketuk oleh seorang warga kita tidak menghiraukannya,lama kelamaan dia mengetuk semakin kencang dan cepat aku pikir dia hanya membuat rusuh saja, dia semakin cepat mengetuk dan membuatkita penasaran dan dia memberitahukan jika bus yang kita tumpangi untuk bagian belakang bus masih di rel kereta api 1 bus pun panik minta turun, semua kata kata pun keluar, omelan – cacian semuanya keluar untuk sang supir , aku hanya bisa berdoa agar meminta selamat dan maju kearah depan agar tidak terkena lintasan kereta meskipun sesak dengan orang dan teriakan aku hanya berpikir harus maju kearah depan, tak lama kemudian kereta pun melintas dan alhamdulilahnya aku masih dikasih kesempatan untuk hidup sampai aku menuliskan untuk kalian yang membaca Aku berpikir, bagaimana jika tadi tidak ada orang yang memberi tahu kalo sebagian bus masih ada direl ,apa aku sudah terlintas kereta api saya begitu takut dan hati saya deg-degan aku hanya bilang alhamdulilah masih diberi keselamatan. semenjak kejadian tersebut saya berpikir saya akan menggunakan waktu saya sebaik-baiknya dan meskipun ada hal buruk atau pun apa yang menimpa saya, saya tidak akan gampang bilang ingin mati atau pun apa yang lebih buruk dari itu saya akan menjaga perkataan saya, dan menggunakan waktu saya dengan baik Dan Terimakasih  kepada allah telah menjaga aku dan minta maaf atas perkataanku yang buruk.

Bunga ditaman hati


Apa yang diangankan oleh seorang mukmin tatkala usia nikah segera menyentuhnya? Satu diantaranya yang terpatri dalam benaknya bahwa ia menginginkan dan mendambakan seorang mukminah jamilah (baca: cantik), taat beribadah, patuh suami, dan mampu mendampingi suami di kala suka dan dukanya. Karena memang, hanya wanita shalihah-lah yang mampu memenuhi harapan sang suami. Lalu siapa dia? Yang menggembirakan tatkala dipandang, taat ketika diperintah dan tak menyalahi diri dan harta dari apa yang di benci sang suami. Barangkali ada celetukan, bahwa dambaan di atas adalah terlalu idealis. Mungkin, namun di era yang serba kekinian dambaan untuk memperoleh sosok wanita tersebut sangat sulit di cari!

Terlepas dari itu semua, kiranya bagi para wanita yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mesti secara dini menyiapkan diri bagi tugas-tugas masa depan yang sarat tantangan. Karenanya para wanita tak bisa melepaskan diri dari perikehidupan wanita salaf (terdahulu), karena merekalah profil-profil yang begitu banyak nilai kebajikannya serta laik menjadi teladan. Satu diantaranya adalah Khaddijah binti Khuwailid, seorang citra pendamping sejati Rasulullah.

Seorang wanita yang kaya, mulia lagi jelita. Khadijah merupakan sosok istri yang telah menyediakan rumah yang menentramkan bagi Rasulullah, sang suami terkasih sebelum diangkat menjadi seorang Rasul. Ia yang menolong saat suaminya bertahannuts di gua Hira, Ia pula yang yang pertama kali beriman dan memenuhi ajakan Rasulullah ke jalan Rabb semesta alam. Adalah Khadijah, sebaik-baik wanita yang membantu dengan jiwa, harta, dan keluarganya. Riwayatnya harum, hidupnya sarat kebajikan dan jiwanya penuh kebaikan, hingga dikatakan padanya,

“Ia (Khadijah) beriman kepadaku, di saat manusia mengingkariku, ia membenarkanku disaat manusia mendustakanku, dan dia membantuku dengan hartanya di saat manusia enggan menolongku.” (Riwayat Ahmad)

Beliau (Khadijah) manjadi wanita pertama yang ikut andil dalam mengibarkan panji-panji Islam bersama Rasulullah. Ikut berjuang dan berjihad dengan segenap jiwa dan harta serta berani menghadapi kaumnya yang menentang dakwah suaminya, Muhammad. Senantiasa memberi motivasi dan semangat kepada suami tercinta dalam menggemakan kebenaran. Beliau merupakan figur istri yang tak disangsikan lagi akan kesetiaan dan loyalitasnya kepada suami meski diterpa keadaan yang sangat sulit sekalipun. Satu bukti kesetiaannya terpapar jelas manakala terjadi embargo yang diberlakukan oleh kaum Quraisy terhadap bani Hasyim dan bani Abdul Muthallib di gunung Abu Qubais, yang berlangsung selama tiga tahun. Setelah bertahan dengan penuh ketabahan, Khadijah dan Rasulullah kembali ke Makkah. Khadijah kembali dalam keadaan letih yang tak terperi, hingga tak berselang lama beliau jatuh sakit dan kembali kehariban Ilahi dengan tenang.

Kepergiannya mengguratkan kesedihan mendalam di hati Rasulullah. Tak berlebihanlah jika masa itu disebut sebagai ‘am al huzn (tahun duka). Meski tak lagi di sisi Nabi, beliau tetap dikenang dan diingat. Dikenang karena budi luhur dan kebaikan hatinya, diingat karena semua pengorbanan dan jasanya terhadap Islam.

Beliau menjadi tauladan bagi generasi mendatang yang selalu menginginkan keridhaan Allah. Tak mengherankan apabila beliau sangat di sayang oleh Nabi, sampai sepeninggalnya sekalipun.
Salah satu ungkapan beliau yang menunjukkan kecintaannya kepada khadijah adalah sebagaimana yang di katakan Aisyah, “Pada suatu hari aku berbincang-bincang dengan beliau, lalu beliau bersabda, “Aku sangat menyayangi apa yang disayangi Khadijah.” (Riwayat Muslim)

Itulah Khadijah binti Khuwailid, profil istri dan ibu yang sangat laik dijadikan panutan. Kasih sayang, pengorbanan, kesetiaannya pada Islam dan suami akan senantiasa dikenang sepanjang masa.

Bidadari Surga: Wahai Ikhwan, Inginkah Engkau Menjadi Suami bagi Mereka?


Allah subhanahu wa ta’ala akan menikahkan orang-orang mu’min di surga dengan wanita-wanita cantik yang bukan istri-istri mereka di dunia sebagai mana firmannya yang terjemahannya “Demikianlah, dan kami nikahkan mereka dengan bidadari” (Q.S. Ad-Dukhan:54). Al-Qur’an melukiskan bidadari sebagai perumpamaan berbadan indah: “Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa mendapat kemenangan, (yaitu) kebun-kebun dan buah-buah angur, dan gadis-gadis berbadan indah sebaya” (terjemah Q.S. An-Naba’: 31 – 33).Bidadari dalah makhluq yang khusus diciptakan Allah subhanahu wa ta’ala untuk para penduduk surga dan mereka adalah gadis-gadis perawan: Sesungguhnya kami menciptakan merka (bidadari-bidadari) secara khusus, dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta lagi sebaya umurnya” (terjemah Q.S. Al-Waqi’ah 35 – 37). Fakta bahwa mereka perawan berarti bahwa mereka belum pernah dinikahi :”…yang tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin.” (terjamah Q.S. Ar-Rahman:56). Ayat di atas membantah pendapat bahwa istri-istri yang alkan diciptakan Allah subhanahu wa ta’ala untuk penduduk surga adalah istri-istri mereka dalam kehidupan di dunia ini, yang diciptakan muda lagi untuk suami-suami mereka. Allah subhanahu wa ta’ala memang akan memasukkan wanita-wanita beriman ke dalam surga dengan memudahkan merka kembali, tetapi mereka bukanlah bidadari khusus yang diciptakan Allah untuk penghuni surga. Al-Qur’an juga menceritakan tentang kecantikan wanita-wanita di syurga: ”Dan (di dalam surga itu) ada bidadari-bidadari bermata jeli, laksana mutiara yang tersimpan”. (terjemah Q.S. Al-Waqi’ah: 22 – 23). Maknun (tersimpan baik) mengandung arti tersembunyi atau terlindungi, sehingga warnanya tidak berubah karena sinar matahari atau sengaja diubah. Di ayat lainnya Al-Qur’an menyamakan mereka dengan permata yaqut (ruby, batu merah delima) dan marjan: “Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukan pandangannya tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Mereka (bidadari) bagai yaqut dan marjan.” (Q.S Ar-Rahman: 56 – 58).Batu yaqut  (ruby, batu merah delima) dan batu marjan adalah dua jenis permata yang tingi harganya. Bidadari dalam ayat berikut digambarkan sebagai bidadari yang dipingit. Ini artinya mereka sangat membatasi penglihatan merka agar tidak melihat kepada lelaki selain para suami merka. Allah subhanuahu wa ta’ala juga menyatakan bahwa bidadari sangat cantik: ”Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (Bidari-bidadari) yang jelita, putih bersih dipingit dalam rumah”. (terjemah Q.S. Ar-rahman 70 – 72).Wanita-wanita di surga tidak sama dengan wanita-wanita di dunia ini. Wanita-wanita surga bebas dari hal-hal seperti haid, nifas, buang air kecil dan besar, meludah dan sebagainya. Inilah yang dimaksud dengan ayat, “Dan untuk mereka di dalamnya ada istri-istri yang suci (bebas dari haid, nifas dan sebagainya), dan merka kekal di dalamnya”. (terjemah Q.S. Al-Baqarah:25). Nabi shallahu ‘alaihi wassalam menceritakan kepada kita tentang kecantikan para istri-istri penduduk surga. Bukhory dan Muslim menceritakan dari Abu Hurairoh radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “kelompok pertama yang akan masuk surga indah bagai bulan purnama, merka tidak akan meludah, membuang ingus, atau buang air. Bejana-bejana merka terbuat dari emas, sisisr mereka terbuat dari emas dan perak, dan bakan dupa mereka dari kayu gaharu. Keringat mereka adalah kesturi. Masing-masing mereka mempunyai dua orang istri yang tulang sumsumnya terlihat melalui kulit karena saking cantiknya (Fath al Bari, VI, hlm. 318). Betapa cantiknya mereka digambarkan Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam sebagai, “jika seorang wanita surga memandang ke dunia ini, ia akan memberikan cahaya dan bau wanginya kepada segala sesuatu yang terletak di antara keduanya (surga dan dunia). Kerudung yang menutupi kepalanya lebih baik dunia ini dan segala isinya” (Fath al Bari, VI, hlm. 15). Jumlah istri minimal seorang lelaki surga adalah 72 orang. Menurut sebuah riwayat seorang syuhada akan mempunyai 72 bidadari surga sebagai istri. Tirmizi dan Ibn Majah meriwayatkan sebauah isnad yang shahih dari Al-Miqdam ibn Ma’dikarib radhiallahu ‘anhu bahwa rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Seorang syuhada akan memperoleh tujuh kehormatan dari Allah subhanahu wa ta’ala: ia akan dimaafkan sejak tetesan pertama darahnya; kepadanya akan diperlihatkan tempatnya di surga; ia akan dilindungi dari adzab kubur; ia akan dibebaskan dari adzab hari kiamat; di atas kepalanya akan ditaruh mahkota keagungan dengan batu mulia yang lebih baik daripada dunia dan segala isisnya; ia akan dinikahkan dengan 72 bidadari surga; dan ia akan diizinkan untuk memeberikan pertolongan (syafaat) kepada 72 orang kerabatnya. (Misykat al-Masabih, III, hlm. 357, no.3834).

 

Nyanyian Bidadari SurgaRasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam mengatakan bahwa bidadari memeiliki suara yang sangat merdu dan suka menyanyi di surga. Dalam Al-Mu’jam al-Awsath, Ath-Thobarani meriwayatkan dengan sanad yang shahaih dari Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘an huma bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda,”Istri-istri penduduk surga akan menghibur para suami mereka dengan nyanyian yang dibawakan dengan suara yang paling merdu yang pernah didengar orang. Yang mereka nyanyikan adalah, “kami baik dan cantik, istri-istri dari orang mulia dan kami akan memandang suami-suami kami dengan puas dan bahagia.” Meraka juga akan menyanyikan, “Kami hidup kekal dan tidak pernah mati, kami hidup aman dan tidak merasa takut, kami tetap akan berada di sini dan tidak akan pergi”. (Shahih al-Jam’ash shaghir, II, hlm. 48 hadist no. 1557).Samariah meriwayatkan dalam al-fawaid dari Anas radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Bidadari dalam nyanyian mereka di surga berkata, “ Kami adalah bidadari-bidadari cantik. Kami dipingit untuk suami-suami yang mulia”. (Shahaih al-Jam’ash-shaghir, II, hlm.48. hadist no. 1598). Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam pernah bercerita mengenai kecemburuan para bidadari atas para suami mereka di dunia, jika istri suami itu mengecewakan suaminya. Ahmad dan Tirmidzi meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Mu’adz radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Tidak ada wanita di dunia ini yang mengecewakan suaminya, melainkan istri suaminya dari kalangan bidadari berkata, “Jangan kecewakan dia, nanti Allah akan memerangimu! Ia bersamu hanya sementara dan ia akan segera meningkankanmu dan datang kepada kami. ( Misykat al-Mashabih, III, hlm.90, no. 5636)Tidakkah kita menginginkan untuk menjadi suami bidadari-bidadari surga? Tentu kita menginginkan hal itu bisa terwujud atas izin Allah. Oleh karena itu, mari kita persiapkan diri dan perbaiki amal agar Allah berkenan menjadikan kita termasuk orang-orang yang beruntung dengan memberikan balasan surga dan bidadari cantik yang belum pernah dilihat kecantikan dan kemuliannya.

 

Sumber: Umar Sulaiman al-Asyqar, Ensiklopedi Kiamat dari Sakaratul Maut Hingga Surga-Neraka, Jakarta:Serambi, 2005, hlm.710 – 713.

 

Dikutip dari: Buletin “An-Naba”, edisi ke-9, 27 Rabiul awwal 1428