Arsip Kategori: Other

Alam pun Berbahasa ( Puisi )


Alampun Berbahasa
Karya : Nurhayati Mahmud
 
Rumput kering kemuning
Bintang gemerlap
Angin melalap
Dedaun terbang keliling.
 
Sungguh sangat romantis
Tak pantas mengais
Apalagi menangis
Mesti berderap dengan manis.
 
Sungguh malu, ketika mereka berdecak dan tersibak
Pasir diorak ombak
Namun, kita tetap congkak
Dengan terbelalak.
 
Matahari gemilang
Menyinari bumi mulia raya
Bulan memantulkan untuknya cahaya
Penuh cinta berulang.
 
Sungguh perputaran yang dinanti
Hingga saatnya ia berganti
Menanti hati
Jangan sampai mati.
 
Sungguh wangi bunga cempaka
Tidak hilang seketika
Jadikan belati sebagai pusaka
Bukan hiasan semata atau bahkan menjadi petaka.
 
Inilah saatnya
Ya, saatnya.
 
Mengukir batu dengan mudah
Karena ia masih ramah
Menumbuk padi di lesung
Ramai sekampung
Untuk bekal mendayung.
 
Inilah saatnya
Ya, saatnya.
 
Membawa bekal ke surau
Tanpa desau apalagi risau
Namun, dengan senda gurau
Menuju pulau
Dengan gemilau.
 
Nb : ini pemenang lomba menulis puisi dipokjar
lebih jelasnya cek di : http://www.pokjarselatan.com/2014/03/alampun-berbahasa.html
Iklan

Dia Datang Kejutkanku ( Cerpen )


Gambar
Dia Datang Kejutkanku!
 
Karya : Ria Febiana Arifin
 
            Sore itu awan nampak kelabu pertanda akan hujan, suara gemuruh dari langit mulai terdengar menggelegar. Angin meniupkan desahan-desahan kasar berliuk-liuk bagaikan penari mengiringi orang-orang yang mulai sibuk berteduh untuk menghindari air hujan yang siap mengguyur Jakarta di kala macetnya sore itu.
            Seorang gadis bertubuh kurus tinggi dengan mengenakan blus bunga-bunga berlengan pendek longgarnya dengan rok satin panjangnya di padukan dengan sepatu ketsnyaberlari-lari kecil menghindari gerimis yang mulai berubah menjadi air bah dari langit yang jatuh menimpa tubuh kurusnya. Dia berlari menuju Halte Bus yang tak jauh dari Kampus dia belajar. Hujan yang lebat itu pun tak mampu menghentikan kemacetan Jakarta yang setiap hari menjadi rutinitas yang paling menjengkelkan bagi warga Jakarta. Karena hampir setiap hari bergelut dengan macet dan waktu yang terus mengejar tiada henti di setiap harinya.
            Gadis itu duduk di bangku Halte dan menaruh tasnya di pangkuan sambil sesekali dia menyeka air hujan di wajahnya yang manis itu dengan hidung kecil bangir melengkapi. Namanya Sandi, Mahasiswi fakultas Ekonomi semester 5 di salah satu Universitas Swasta Jakarta. Rambutnya yang hitam sebahu pun tak lepas dari siraman air hujan sore kala itu. Namun air hujan yang membasahi wajahnya tak dapat menghapus pesona wajah manisnya yang nampak alami. Puluhan kendaraan yang berjejal di depan matanya pun menjadi suguhan tontonan yang hampir setiap hari berjibaku di depan matanya yang sayu. Suara klakson bergema di setiap penjuru jalan raya itu, nampaknya setiap orang menjadi tampak terburu-buru di kala macet apalagi di saat hujan turun yang membuat jalanan aspal menjadi licin, yang membuat para pengemudi harus ekstra berhati-hati di tengah guyuran air hujan yang semakin derasnya.
***
“Wajah mereka terlihat lucu di kala sedang gusar seperti itu.”ucap sosok laki-laki di samping Sandi yang tampak mengenakan jaket putih dengan celana jeans biru donkernya di padukan dengan tas selempang putihnya
Sandi tak memperdulikan ucapan laki-laki itu, dia hanya menatapnya sebentar lalu pandangannya menghambur ke arah atas langit yang menjatuhkan air hujan dengan semangatnya. Tapi sejak kapan laki-laki itu duduk di samping Sandi? Apakah memang Sandi yang tak terlalu memperhatikan sekitar yang memang ramai dengan orang lalu lalang untuk menghindari hujan?
“Terkadang ku di buat heran dengan hujan. Tidakkah itu begitu indah di kala ada air turun dari langit?Membuat tanah yang gersang menjadi tanah yang subur dan membuatnya lembab yang menimbulkan aroma khas sedap dari alam, yang membuat suasana panas menjadi lebih dingin terkadang juga membuat hangat. Namun di saat itu juga terkadang kehadirannyatak di ingini untuk setiap orang, mereka berujar hujan merupakan mala petaka yang membuat bencana bah bagi mereka.”ucap lelaki itu lagi sambil memandang ke arah Sandi yang duduk terdiam di sampingnya, dan seketika Sandi membalas pandangan lelaki itu walaupun hanya sesaat. Karena nampaknya Sandi tak memperdulikan ucapan lelaki itu yang menurutnya dia adalah lelaki yang aneh. Dan untuk apa juga memperdulikan orang yang tak di kenal, pikir Sandi saat itu.
“Aku suka hujan yang tenang, bukan yang penuh dengan gemuruh. Gemuruh, bukankah itu mencengkam? Yang bisa membuat suasana bak neraka nyata di dunia, yang bisa membuat orang menjerit dengan suaranya yang maha keras. Itu sungguh menyeramkan!”lanjut lelaki itu sambil menatap lelaki bertubuh tambun yang mengendarai Truk besar berteriak-teriak sembari membunyikan klakson dengan kerasnya, itulah salah satu contoh kondisi orang jika sedang gusar dalam menghadapi macetnya kota Jakarta yang bak hutan belantara
            Sandi hanya mengkerutkan kening sambil menatap lelaki itu dari sudut wajahnya lalu membuang pandangan di sekitarnya yang dirinya baru menyadari ternyata halte itu di sesaki oleh orang banyak . Sambil melirik arloji berwarna perak di tangan kanannya, dalam hatinya bergumam,“Jam keluar Kantor, Bus gue pasti full ini, harus ekstra cepet.”
Jika Ibunya tak meminta Sandi untuk segera pulang untuk membantu pesanan kue kering yang memang sedang over order, dia memilih lebih baik untuk tetap di Kampus sekedar untuk berteduh daripada harus menungu di halte yang sesak ini dan di temani lelaki aneh yang terus menerus berujar tentang hujan.
***
            Bus yang di tunggu-tunggu Sandi pun akhirnya muncul di hadapannya, namun saat dia beranjak dari duduknya tiba-tiba dia tersandung batu dan jatuh tersungkur. “Oouch!” Sontak Bus yang sedari tadi di tunggunya, sudah di sesaki penumpang yang berjubel. Dengan kesalnya dia bangun dan menendang batu yang membuat dirinya jatuh tersungkur.
Lelaki aneh yang berujar tentang hujan itupun hanya tertawa terkekeh-kekeh melihat tingkah Sandi, dan sontak Sandi langsung memandang lelaki itu dengan ekspresi ketusnya dan beranjak duduk di tempatnya lagi.
“Tunggu bus rute ke 2, pasti ada tempat buat kamu.”ucap lelaki itu lembut sambil menyunggingkan senyuman manis
Entah kenapa seolah ada sihir yang mengenainya, Sandi langsung terpikat dengan senyuman manis lelaki itu. Sandi hanya terus menatapnya dengan pandangan kagum, namun seketika dia tersadar dengan tatapan lelaki itu yang kelihatannya menyadari pandangan kagum Sandi terhadapnya. Dengan menghilangkan rasa malunya, Sandi membuang pandangannya dari lelaki itu lalu menghela nafas panjang.
“Kenalin, aku Tio.”ucap lelaki itu sambil menyodorkan tangan kanannya di hadapan Sandi
“Sandi.”balasnya sambil menjabat tangan Tio lalu dengan terburu-buru segera melepasnya, entah mengapa seakan ada dorongan, Sandi untuk menjabat tangan kanan Tio
“Aku mahasiswa Fakultas Sastra Indonesia semester 6 dan kita satu Universitas”kata Tio pasti
Sandi hanya mengangguk pelan sambil memandang lurus ke depan.
“Aku tahu kamu, gadis yang selalu terburu-buru seolah-olah waktu terus mengejar.”ucap Tio lagi dengan memamerkan senyuman manisnya
“Maksud kamu?”tanya Sandi sambil mengkerutkan keningnya dan seketika memandang Tio
Tio hanya tersenyum pada Sandi, dan tentunya itu senyuman yang manis yang sedari tadi di sunggingkannya
“Kamu itu spy?”tanya Sandi lagi sambil memandang heran ke arah Tio
Yes, i’m your spy!”jawab Tio sambil tetap tersenyum dengan senyuman manisnya
Sandi melototkan kedua matanya lalu tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya dengan erat. Tanpa memperdulikan Tio yang menatapnya dengan pandangan heran.
“Kamu tuh lucu deh! Emangnya aku itu penjahat kelas kakap yang musti di mata-matain?”ujar Sandi dengan ekspresi wajah menahan tawa
Tio hanya mendengus pelan lalu membuang pandangannya ke arah depan dengan senyuman manisnya tanpa menatap Sandi.
“Aku memang mata-mata mu, yang selalu mengintaimu. Yang selalu ingin melihat pesona wajah manismu walaupun di jarak yang jauh.”ucap Tio tanpa melepas senyuman manisnya, dan Sandi hanya menatap Tio dengan pandangan heran melalui sudut wajahnya yang tampan, kali ini Sandi berhenti tertawa dan memasang wajah seriusnya menundukkan wajahnya, dan menatap Tio lagi yang Tio terus menatap lurus ke depan tanpa menoleh sedikit pun ke arah Sandi dan ternyata Sandi baru menyadari, bahwa lelaki yang sedari tadi di sampingnya adalah lelaki bak malaikat dengan senyuman manis menawan.
“Dia sungguh tampan.”batin Sandi kala itu tanpa melepas pandangan kagumnya dari Tio
“Ya, aku selalu memperhatikanmu, kamu adalah inspirasi terbesarku.”ucap Tio tanpa menatap Sandi, pandanganya lurus ke depan, yang hanya Sandi terus menatap Tio dengan pandangan kagumnya, namun seketika Tio balik menatapnya dan Sandi langsung terkaget. Secepat kilat dia membuang pandangannya ke depan.
“Ngghh, kamu kurang kerjaan!”ucap Sandi seketika dengan ekspresi wajah yang di buatnya sok serius dan kali ini dia betul-betul gugup
Tio hanya tersenyum dan tentunya itu adalah senyuman manisnya sambil menatap Sandi dari sudut wajah gadis manis itu.
“Dengan menatap wajah manismu aku berharap kan ada cahaya yang menyinari setiap langkahku yang gelap, kamu gadis yang mempunyai wajah manis yang membuatku terpikat akan pesonamu. Dengan hanya menatap wajah manismu membuatku bahagia seakan hidupku manis tanpa ada kepahitan yang menyertaiku. Maukah kamu selalu menjadi inspirasiku?”ucapan Tio itu membuat Sandi kaku tak dapat berucap, karena dia tak menyangka ada seorang lelaki rupawan yang memiliki senyuman manis, yang membuatnya seakan melambung tinggi dengan ucapannya yang bak pujangga, mengaguminya! Tidakkah ini hanya sebuah lelucon saja? pikir Sandi setelah beberapa saat hanya terdiam.
“Aku menyukaimu, tidak hanya wajah manismu. Namun semua yang ada pada dirimu, aku sungguh suka. Kamu bagaikan bidadari yang selama ini aku tunggu yang Tuhan mengirimkannya di bumi. Bidadari dengan bingkai wajah manisnya, tingkah lakunya yang selalu membuatku berdecak kagum dan jiwa kewanitaanmu yang selalu terpancar. Aku sungguh menyukaimu.”ucap Tio dengan suara lembutnya
Sandi hanya bisa terdiam mendengar ucapan Tio, dia mencoba untuk menatap lelaki itu.
“Aku ingat saat diam-diam mengintaimu, kamu membantu anak kecil yang tersesat untuk menemukan jalan pulangnya. Padahal kamu tak mengenalnya, dan bisa saja hal buruk menimpamu di saat kamu menolongnya. Namun, justru aku melihat malaikat putih yang menolong anak kecil itu, malaikat tanpa sayap yang mempunyai wajah manis dengan tulus menolong tanpa mengharapkan imbalan apapun. Aku sungguh takjub di buatnya, di zaman orang yang seakan tak peduli satu sama lain malah justru aku menemui seseorang seperti kamu yang mempunyai budi pekerti yang baik. Wajah manismu sebanding dengan ketulusan hatimu yang juga manis. Itu serasa sempurna untuk gadis sepertimu.”ujarnya lagi panjang lebar, dan Sandi hanya bisa diam tak berucap. Dirinya tak menyangka ada sesorang yang diam-diam mengamatinya dan ternyata dia adalah penggemarnya. Serasa tak cukup baik dia tuk di kagumi.
“Mungkinkah aku mengenal lelaki ini?”dalam hati Sandi bertanya
Sandi hanya terus menatap Tio dengan pandangan sayunya, yang membuat wajah manisnya seakan terpancar dengan anggunnya.
“Apakah aku mengenalmu?”tanya Sandi tanpa melepas pandangannya kepada Tio
“Tidak, kamu tidak mengenalku. Aku hanyalah penggemarmu yang selalu menanti mu di sudut perpustakaan Kampus, yang hanya sekedar untuk melihat wajah manismu, walaupun aku harus menunggumu lama hingga aku seperti penguntit bagimu.”jawab Tio menatap Sandi lekat-lekat, wajah rupawannya sungguh membuat Sandi seakan tersihir dengan pesonanya
“Aku sungguh tak mengerti, mengapa ada seseorang sepertimu yang mengagumiku, gadis biasa yang tak istimewa.”balas Sandi dengan ekspresi wajah penuh dengan rasa penasaran
Tio menghela nafas pendek dan menundukkan kepalanya, lalu menatap Sandi lagi. Kali ini jarak wajah mereka berdua tak lebih dari tiga jengkal.
“Tidak pernahkah kamu melihat wujudmu di cermin? Kamu adalah makhluk termanis yang pernah aku temui seumur hidup. Kamu membuatku seakan takjub dengan pesona manismu, tidak hanya itu. Selama ini aku menguntitmu, baru ku tahu bahwa kamu menyukai sastra yang justru membuatku terpikat padamu, dan sejak tiga bulan lalu aku telah menganggap diriku sebagai penggemarmu yang akan terus mengagumimu.”ucap Tio panjang lebar dengan menatap dalam kedua mata sayu Sandi
            Tanpa mereka berdua sadari, ternyata Halte Bus yang sedari tadi padat telah sepi. Hanya mereka berdua lah yang di situ, di temani dengan pedagang asongan yang sibuk menghitung uang hasil jualannya, duduk di bangku sudut Halte.
Seketika itu juga datang bus yang sedari tadi di tunggu Sandi. Dengan kagetnya karena mendengar klakson bus, Sandi segera melayangkan pandangannya ke depan dan beranjak dari duduknya ketika menyadari hari sudah gelap, hujan pun sudah reda dan Adzan Maghrib telah di kumandangkan.
“Sandi, besok aku akan menunggumu di Halte ini. Jika kamu tidak datang, aku akan berhenti mengagumimu, menjadi penggemarmu dan akan menguburmu di relung hatiku. Aku akan terus menunggumu sampai kamu datang.”ucap Tio beranjak dari duduknya dan Sandi hanya terdiam dan melangkahkan kakinya tanpa mengucap sepatah katapun kepada Tio dan segera menaiki bus yang sedari tadi di tunggunya. Dalam jendela kaca bus, Sandi melihat Tio sedang berdiri menatapnya dari kejauhan, tatapan lelaki yang membuatnya tersihir di Halte Bus itu dan dia membuang pandangannya ke Handphone yang sedari tadi dia taruh di dalam tas. Ternyata banyak sekali misscall dan SMSdari Ibunya, ternyata beliau telah di bantu tante Ani untuk menyelesaikan pesanan kue keringnya yang sedang banyak-banyaknya, dan menyuruh Sandi agar tak usah terburu-buru untuk pulang.
            Dalam waktu sekejap saja lelaki bernama Tio itu sungguh membuatnya bingung. Sekali lagi dia tak mempercayai ada seseorang seperti Tio yang mengaguminya bahkan selalu mengamatinya dari jauh. Namun dengan pesona wajahnya yang rupawan dan tutur katanya yang seakan membuat Sandi tersihir, dia pun tak dapat menolak kehadiran Tio yang bak kejutan di hatinya. Sekali lagi Sandi di buatnya begitu bingung. Haruskah dia datang ke Halte Bus itu lagi? Mungkinkah Tio benar-benar menunggunya? Apakah Tio hanya sekedar khayalan Sandi saja? Ataukah dia memang lelaki yang kurang kerjaan saja? Seribu pertanyaan tentang Tio menghantui hati Sandi di kala sepinya bus yang dia tumpangi.
***
            Entah mengapa hari itu begitu cepat berlalu, jam-jam kuliah pun terasa begitu cepat berlalu. Dalam kebimbangan yang mendalam, Sandi duduk di Perpustakaan Kampus untuk sekedar membaca beberapa buku sastra. Namun seketika dia ingat perkataan Tio kemarin sore yang selalu menunggunya di Perpustakaan Kampus, refleks kedua mata sayu Sandi mencari sosok lelaki itu, namun dia tidak menemukan sosok Tio dalam keheningan Perpustakaan. Entah mengapa Tio membuat harinya begitu mendebarkan, seakan Tio telah melayangkan sejuta mantra untuknya. Mantra yang berfungsi membuat Sandi seakan terpesona olehnya, bukan hanya dengan wajahnya yang rupawan, melainkan kata-katanya yang membuat Sandi kaku tuk membalasnya. Dan dalam sekejap saja Tio dapat melumpuhkannya hanya dalam hitungan jam saja. Dan tidak tahu apakah dia akan datang menemui Tio di Halte Bus. Karena menurut Sandi ini seperti mimpi, mimpi yang benar-benar membuatnya seakan mendapatkan kejutan. Membaca beberapa buku sastra di perpustakaan pun tak dapat mengusir pikirannya tentang Tio yang mengejutkan hari-harinya kemarin bahkan efeknya terasa hingga hari ini. Dengan membaca beberapa buku sastra dia berharap dapat membunuh waktu sampai jam menunjukkan pukul lima sore, membuat keputusan akan kedatangannya ke Halte Bus atau tidak.
***
            Semilir angin sore itu begitu manja, meliuk-liukan dedaunan hijau yang rimbun di atas pepohonan di pinggiran jalan raya itu. Suasana sore itu begitu hangat, tidak seperti kemarin yang di guyur dengan air bah hujan dengan petir bergetar di segala penjuru. Sesosok lelaki berpostur kurus tinggi duduk sendiri di Halte Bus, pandangannya lurus tertuju ke Kampus fakultas Ekonomi di seberang jalan. Dengan mengenakan t-shirt hijau polos pendek, celana jeans panjang hitamnya dan tas selempang putihnya yang di taruh di pangkuannnya, dia nampak rupawan dengan pancaran sinar wajahnya yang bak malaikat dengan pesona indahnya. Mata elangnya lurus memandang ke Kampus itu dan sesekali dia melirik jam tangan hitamnya di pergelangan tangan kirinya. Tepat pukul 5, dan dia menunggu Sandi. Gadis yang di kaguminya melebihi apapun dengan milyaran gadis di dunia ini, karena dia telah terpesona dengan keanggunan wajah manis sang gadis Mahasiswi fakultas Ekonomi tersebut.
***
            Gadis dengan bingkai wajah manisnya sedang duduk di bangku Perpustakaan, dia tak menyadari sudah lebih dari 3 jam dia menduduki kursi itu. Mungkin kursi itu sudah panas sebanding dengan panasnya Jakarta. Melamunkan sesuatu, bahkan onggokan buku di depan matanya hanya sekedar pajangan tak di bacanya satu pun. Dia hanya membalik-balikkan halaman demi halaman seolah-olah buku itu hanya mainannya. Dan dia melakukannnya terus hingga dia mendapatkan keputusan yang tepat untuk sosok lelaki yang menunggunya di Halte Bus, ataukah lelaki itu telah lelah menunggunya dan beranjak pulang merenggangkan otot-otot kakinya yang kram karena menunggu sang gadis yang tak kunjung datang?
***
            Tepat pukul 6 sore, sudah satu jam Tio menunggu Sandi di Halte Bus itu. Rasa sesal memuncaki relung hatinya yang kering bagaikan padang pasir tandus. Dia berharap gadis itu datang untuk sekedar menyejukkan hatinya yang kering dengan siraman air nirwana darinya. Ah, khayalannya terlalu tinggi, yang pada kenyataannya sekarang dia hanya sendiri di Halte itu menunggu Sandi yang jelas-jelas tak datang. Mungkin dia sudah berbaring di atas ranjangnya yang empuk dan hangat dan melupakannya untuk selamanya sebagai pengemarnya yang bodoh. Pikiran buruk itu terus menghantui otaknya.
            Dan dengan perasaan seperti kalah dalam peperangan, dia beranjak dari duduknya. Dia tak akan mengharapkan gadis yang bernama Sandi itu untuk datang menemui lelaki konyol sepertinya. Bukankah itu hanya membuang-buang waktunya saja? Waktu Sandi yang berharga telah habis untuk mendengarkan ucapan-ucapan tak pentingnya kemarin sore. Kesedihan telah merajamnya hingga menusuki tulang, sumpah demi apapun Sandi tak akan datang!
***
“Hey!”sebuah suara yang tak asing bagi Tio yang membuatnya kaget saat beranjak dari duduknya
“Mau kemana?”
“Aku buat secret admirerku menunggu lama ya?”tanya Sandi beranjak menghampiri Tio yang kaget dengan kedatangan Sandi yang mengejutkannya
Seketika Tio berjalan pelan menghampiri gadis manis itu dengan bingkai senyum manis yang dia bahkan lupa akan kekesalan hatinya yang menunggu Sandi seari sejam lalu
“Tiada kelelahan bagiku untuk menunggu sang gadis manis yang telah meruntuhkan seluruh bangunan isi hatiku. Aku akan menunggunya hingga dia kan terbangkanku ke atas sana mengapit buih-buih awan putih dan merangkainya menjadi sajak sempurna yang akan ku dengungkan padamu selamanya, seumur hidup. Tak akan ku memuja selain dirimu oh gadis manisku.”ucap Tio panjang lebar dengan senyuman manisnya, yang Sandi hanya bisa tersenyum mendengar ucapan Tio yang membuatnya tersipu malu. Bahkan dua pipinya memerah seperti Apel merah yang siap di petik.
Keduanya tersenyum bahagia, dan gerimis itu seakan membawa sejumput kebahagiaan bagi gadis manis itu dan penggemarnya yang membuat sang gadis seakan terbang melayang dengan kata-katanya yang menyanjungnya selalu. Dan apakah kedua hati mereka kan bertaut seiring dengan rasa kagum di antara keduanya? Biarlah waktu kan melakukan tugasnya untuk mereka.
The End..
nb : ini juara kedua lomba nulis cerpen dipokjar, untuk lebih jelasnya yuk cek

Edelwies ( CERPEN )


Gambar
Edelwies
 
Karya : Muhammad Aliman Shahmi
 
Petang yang indah. Langit terlihat begitu anggun dengan perpaduan warna biru muda dan putih dengan sedikit warna jingga yang membias diantara perpaduan  anggun itu. Marapi dan Singgalang berdiri kokoh bak sepasang kekasih setia sehidup semati,layaknya cinta sejati namun terlarang yang dikutuk menjadi dua gunung besar. Terlihat anggun sekali, seolah tersenyum dan mengisyaratkan kepada semua yang melihatnya petang ini bahwa mereka akan tetap beridiri kokoh dan menjaga semua keindahan ini. Alam memang sangat romantis.
Rasanya, Bukittinggi memang dianugerahi pemadangan terindah sore ini. Apalagi, jika semua keindahan itu dinikmati dari taman kota yang terletak di atas bukit kecil yang berada persis satu kilometer dari objek wisata jam gadang. Taman yang indah dengan berbagai macam tanaman hias dan rerumputan yang menghanpar bak permadani hijau yang indahnya melebihi permadani istana kerajaan Pagaruyung . Belum lagi, sebuah bangunan besar bergonjong khas tradisional Minangkabau yang dijadikan sebagai pusat pemerintahan kota Bukittinggi saat ini. Semuanya terasa begitu kompleks, keindahan alam yang menyatu dengan keindahan yang ditata oleh Manusia. Jika ada yang menanyakan tempat apa yang bisa dijadikan sebagai tempat yang nyaman dan romantis, mungkin semua yang mengetahui taman ini akan dengan lantang mengatakan bahwa taman ini adalah tempatnya.
Lihatkah, puluhan manusia memenuhi taman ini dengan beragam keceriaan yang terlihat diwajah mereka. Tiada tampak sedikitpun guratan wajah kegalauan apalagi kesedihan di taman ini, semuanya ceria. Tak terkecuali, tiga sekawan yang tidak  pernah melewatkan akhir pekan di taman ini. Rani, Rian, dan Dahlan. Dari jaman SMA sampai mereka berhasil menyelasaikan pendidikan sarjana. Taman ini selalu menjadi tempat bagi mereka untuk melepaskan penat, berbagi cerita, mencurahkan keluhan masing-masing, hingga masalah percintaan masa muda yang selalu diselesaikan dengan hal-hal bodoh yang membuat masalah percintaan itu lenyap seketika dan hingga saat ini, tiada satupun di antara mereka yang memiliki kekasih. Ya, semenjak persahabatan ini dibina.
“ Aku rasa, taman ini lebih tepat dikatakan sebagai simbol cinta sejati namun bodoh, konyol, namun awet.” Dahlan memecah lamunan dua sahabatnya yang sedari tadi tengah asyik menikmati pemadangan kota dari sudut taman itu,
“ aik..? simbol cinta sejati yang bodoh ?  kau bicara seperti itu apa karena tangisan kau hilang di taman ini setelah di tolak mentah-mentah oleh Delia pada jaman SMA dulu ya? Aku masih ingat, waktu itu kau dengan tanpa malu sedikitpun menangis keras-keras di taman ini. Hmm, ya, waktu itu hujan deras. Aku dan Rani tengah berteduh di dekat warung nasi  yang ada disebelah Kantor Walikota waktu itu.” Rian menanggapi perkataaan Dahlan dengan raut muka penuh tanda tanya walaupun pada akhirnya menduga-duga dengan menyebutkan aib masa lalu si Dahlan
“ Iya, aku ingat. Waktu itu kau ambil air hujan yang sudah tercampur dengan bekas pencucian piring yang ada di belakang kedai itu dan kau serta merta berlari ke arah Dahlan dan menyiraminya dengan air itu. Seraya berkata ‘berisik..!, kau mengganggu kemesraanku dengan hujan’ dan entah kenapa, tangis Dahlanpun reda,mendahului redanya hujan“ Rani ikut menambahkan cerita Rian seraya melemparkan pandangan ke arah Dahlan dengan tatapan yang hendak menyudutkan.
“ Riaaaaan…!!!, tak habis-habis lah kau sebutkan aib masa laluku itu jika aku membicarakan pasal cinta, macam kau memiliki reputasi yang bagus saja tentang cinta. Kau pun sama, jangankan memiliki hubungan dengan perempuan, suka dengan perempuanpun aku rasa tidak ada. Sebab, selama ini kau hanya memuji ketampanan lelaki, bukan kecantikan perempuan,”
“ Eh..eh, kau bilang apa tadi? Aku tak  suka perempuan..? apa pasal kau sebut aku macam tu?  Buktinya apa..? kau jangan hendak mengalihkan pembicaraan ya..!,”
“ Ya buktinya dulu, ketika masih di SMA. Kau sering katakan ke teman-teman perempuan kau kalau aku ini tampan kan? Ayo, di dekat kantin Onang, kau sering menggoda perempuan dengan menjual ketampananku ‘hai, kau sudah punya pacar belum? Temanku ini jomblo lho, dia tampan bukan?
“ Sial, itu karena aku kasihan saja dengan kau Dahlan. Bukankah kau selalu murung dan tiada semangat hidup setelah kau di tolak Delia? Makanya aku berlagak bak salesman yang kian kemari mempromosikan kau ke teman-temanku. Agar  yang aku promosikan itu laku dan tidak membebaniku lagi. Bukannya aku tak suka dengan dengan perempuan, apalagi nada bicara kau tadi yang seolah mengatakan kalau aku ini lelaki yang memiliki ‘orientasi’ yang berbeda, alias gay. Tetapi aku hanya mencoba bijak dalam hal percintaan”
“ Lah, jangan berkilah terus kau Rian. Bukti dah nyata, hahahahha”
“ Kau..!!, itu karena…” Belum sempat hendak melanjutkan kata-katanya, tiba-tiba Rani memotong perkataan Rian.
“ Hahahha, sudahlah.., kalian jangan bertingkah macam anak kecil lagi. Apa kalian tidak malu? Ingat, sekarang umur kalian sudah hampir seperempat abad. Malulah..!!, belum lagi di tengah-tengah kalian ini ada Bidadari jelita yang semestinya semua lelaki yang ada di sekitarnya menjaga sikap. Bertingkah bak para pangeran dari beberapa kerajaan yang tengah melakukan sayembara untuk mendapatkan cinta sang Bidadari Jelita ini.”
“ Iyaa.., Bidadari Kampuang Pisang..!! hahahahha.” Sontak ketegangan antara Dahlan dan Rian berubah menjadi tawa lepas karena mendengar perkataan Rani yang menyebut dirinya  sebagai Bidadari. Kampuang Pisang? Itu nama sebuah desa kecil yang ada di kawasan ngarai sianok. Kampung halaman Rani yang konon katanya merupakan penghasil pisang terbesar di kawasan kota Bukittinggi. Makanya disebut Bidadari Kampuang Pisang.
 Sebenarnya Rani memang pantas disebut bidadari. Wajahnya yang cantik dengan hidungnya yang mancung,senyumnya yang  melebihi keindahan Pulau Tidung,kepala yang selalu dimahkotai kerudung,hanya saja, hingga saat ini belum ada lelaki yang beruntung.
“ Tak kusangka, sudah hampir sepuluh tahun kita menjalin persahabatan   dan kita selalu menghabiskan akhir pekan di taman ini. Akupun bangga dengan kita yang telah  sukses dan menggapai impian masing-masing. Dahlan sukses mencapai cita-citanya sebagai arsitek, Rian sebagai manajer muda, dan Aku, Alhamdulillah sudah mencapai cita-citaku sebagai dokter.”
“ Hah..? Engkau sudah jadi manajer Ian? di Perusahaan apa ? aku kira kau akan sudah dengan nyaman meneruskan bisnis konveksi keluarga kau” Dahlan bertanya heran karena mendengar perkataan Rani tadi.
“ Iyaa, aku merahasiakan kepada kalian kalau selama ini aku adalah karyawan di PT Semen Padang. Dan Alhamdulillah, aku di promosikan menjadi Manajer Pamasaran dan Sekarang aku berhasil mencapai posisi itu. Masalah bisnis konveksi, aku tetap mengawasi dari jauh dan memantau langsung seminggu sekali. Karena itulah kalian selalu bisa menemuiku di akhir pekan dan bisa berkumpul di taman ini ”
“ Alamak, engkau memang tak berubah dari dulu Ian. Selalu saja tak puas dengan apa yang telah kau capai dan kau miliki. Sebelumnya aku sudah berfikir kalau kau telah  berubah. Merasa puas setelah meraih gelar Sarjana Ekonomi dan fokus pada bisnis keluarga. Ternyata aku salah.”
“ Haha, tak kan lah kubiarkan engkau mengungguli aku, Dahlan. “
“ Oh iya, jumat depan ada acara reuni anggota Sispala dan Pramuka  angkatan kita dulu. Kabarnya, acaran reunian nanti rencananya tracking ke Marapi, sekalian camping bersama di taman Edelwies..” Rani menyela, mengutarakan rencana alumni organisasi mereka sewaktu SMA dulu.
“ Wah, rencana bagus dan selama ini aku tunggu-tunggu. Sudah lama sekali kita tidak trackingke Marapi. “ Dahlan berseru semangat
“ Engkau mesti ikut Ian, Aku dengar Delia juga ikut serta. Rugi sekali kalau kau tak ikut. Siapa tahu, hatinya luluh ketika melihat kau yang sekarang” Rani menyemangati Dahlan, menguatkan dia dengan keikutsertaan Delian di acara tracking nanti.
“ Aku tak bisa ikut” Rian mengeluh kecewa
“ Lah.., kenapa kau tak ikut Ian? ini moment yang bagus. Sudah lama kita melakukan tracking pendakian bersama. Sayang sekali kalau kau tak ikut. Alaaaah, payah lah kau.” Dahlan berseru kecewa
“ Aku juga sudah lama merindukan moment ini, bahkan sudah lama sekali. Namun senin depan aku harus berangkat ke Bandung untuk   mengikuti pelatihan selama seminggu. Waktunya tidak pas, padahal aku ingin sekali ikut”
“ Yaah.., Rian….” Rani pun ikut mengeluh kecewa
“ Hmm, ya sudahlah. Kalau memang demikian. Huft…” Dahlanpun akhirnya mengeluh seraya menyeka peluh di lehernya
“ Kalian pakai saja semua peralatanku. Tenda,carrier, nesting, trangea, dan semua perlengkapan makanan kalian ambil saja di kedai Mak Datuak di depan rumahku. Bilang saja, aku yang bayar semuanya.”
“ Hah..? sungguh….?!!” seru Rani dan Dahlan bersamaan
“ iya, kalian gunakan saja. Oh iya,acaranya jumat bukan? Berarti minggu sudah kembali, jadi aku sempat bertemu kalian nantinya. Soalnya hari minggu itu aku sudah kembali dari Bandung.”
“ Baiklah, semoga saja minggu depan ketika bertemu dan semoga nanti kau tidak terkejut Ian. Pokoknya, ada hal besar yang akan aku lakukan di Marapi nanti.” Dahlan menyeringai seraya megacungkan telunjuknya ke arah Rian.
“ Maksud kau..?” Rian berseru heran
“ Kau lihat saja nanti. Ya sudah, ayo balik..! sudah hampir maghrib. Aku mau cepat-cepat pulang. Selepas Isya nanti aku harus segera kembali ke Padang.”
“ Ah kau, bikin penasaran saja. Ya sudahlah, ayo balik. Eh Rani, kau ke Kampung Pisang naik apa..? naik angkot merah nomor dua belas? Jam segini sudah tidak ada. Kau berlari saja minta antarkan sama monyet ngarai sianok. Aku dengar, kalau malam-malam banyak jadi tukang ojek ayun. Jadi kau bisa cepat sampai ke sana. Hahaha”
“ Rian….!!!!, kau bisa diam tidak dan berhenti mengusiliku..!!” Rani menggeram seraya mendengus bak nenek-nenek sakit gigi yang digombali pereman mabuk.
“ Huahahhahahaha…” Rian dan Dahlan tertawa lepas ketika melihat tampang Rani.
Senjapun datang menyapa. Rian, Dahlan, dan Rani akhirnya meninggalkan taman itu bersamaan dengan adzan maghrib yang berkumandang memecah semua kumpulan yang ada di taman itu. Memang pamandangan tambahan yang menyejukkan hati. orang-orang beramai-ramai meninggalkan taman itu seketika muadzin mengumandangkan adzan. Seolah semua yang ada disana menyadari bahwa semua keindahan itu patut disyukuri dengan memenuhi panggilan illahi.
***
Sabtu sore di salah satu kedai kopi di pusat kota Bandung. Rian tengah menikmati waktu istirahatnya setelah melakukan Traning hari ini. Ya, hari ini adalah hari terakhir kegiatan Traning. Ia sengaja memilih warung kopi sebagai tempat istirahat sebelum kembali ke hotel disaat semua peserta Traning sibuk menghabiskan waktu luang ini untuk berbelanja di pusat perbelanjaan yang ada di kota ini.
Di kedai kopi ini, sambil menyeduh kopi hitam dengan ditemani singkong goreng yang masih hangat. Pikiran Rian kembali tertuju kepada teman-temannya yang sedang reunian di Marapi saat ini. Terutama dua sahabat dekatnya yang minggu lalu begitu kecewa saat mengetahui dirinya tidak bisa ikut menyertai mereka dalam acara reuni itu. Rasanya begitu sesak karena ia sebenarnya juga memiliki rencana bersama sahabatnya itu di puncak gunung itu.
Ketika tengah asyik menikmati kopi hitam dan singkong goreng itu. Tiba-tiba perhatian Rian tertuju pada televisi yang ada di warung itu. Saat itu pemilik kedai tengah menyetel siaran berita dari salah satu stasiun televisi swasta nasional.
“ Pak.., maaf, bisa tolong dibesarkan sedikit volume suaranya pak? Saya mau mendengarkan berita itu lebih jelas lagi.” Rian berseru kepada pemilik kedai seraya beringsut mendekat ke arah televisi.
“ Baik Aa’ “ pemilik kedai langsung menambah volume suara televisi itu.
“Dua belas orang pendaki asal Bukittinggi di kabarkan hilang saat mendaki Gunung Marapi, Sumatera Barat. Para pendaki tersebut dikabarkan kehilangan kontak dengan petugas posko pendakian semenjak Sabtu pagi saat cuaca buruk melanda kawasan Gunung tersebut. Menurut info yang didapatkan dari petugas, para pendaki tersebut merupakan rombongan alumni Pramuka dan Sispala SMAN 6 Bukittinggi yang melakukan pendakian semenjak Rabu pagi. Petugas mengetahui kehilangan pendaki ini saat petugas menghubungi ketua Rombongan dari pendaki tersebut, Dahlan. Saat itu petugas memberikan ultimatum kepada semua pendaki untuk menjauhi berhati-hati dan menjauhi kewasan puncak,namun petugas tidak bisa menghubungi rombongan in. Kecurigaan itu timbul saat diketahui bahwa pendaki tersebut melakukan pendakian semenjak tiga hari yang lalu dan pernyataan dari keluarga pendaki bahwa mereka belum pulang sama sekali. Saat ini Tim SAR Gabungan dibantu Basarnas telah mulai  melakukan pencarian semenjak siang tadi dan sampai saat ini masih belum ada laporan…”
“ Alumni Sispala dan Pramuka SMAN 6? Apakah itu rombongan angkatanku dulu? Tapi, bukannya Mereka melakukan pendakian Jumat pagi?” Rian bergumam heran, ada sedikit kerisauan di dalam hatinya.
“ Aku harus segera memastikan kabar ini, aku akan menghubungi orang tua Dahlan….” belum sempat hendak menghubungi orang tuanya Dahlan. Tiba-tiba handphone-nya Rian berbunyi, ada panggilan masuk. Ternyata dari Fauzi, teman satu angkatan dengannya.
“ Asslamualaikum zi..”
waalaikumsalah ian.., kau sudah dapat kabar perihal kehilangan rombongan pendaki di Marapi? Itu alumni angkatan kita. Kau dimana sekarang?”  suara Fauzi terdengar tergesa-gesa cemas.
“ Apa.? Jadi benar itu Rombongan angkatan kita. Astaga Dahlan dan Rani ikut serta bersama mereka. Tetapi bukannya mereka berencana berangkatnya hari jum’at . Di berita aku dengar hari Rabu. Kau yang benar saja, Zi.”
“  Iya, awalnya aku juga akan ikut serta di rombongan itu. Tetapi mendadak mereka mengubah jadwal keberangkatan menjadi hari rabu. Alasannya mereka mendapatkan cuti lebih awal. Makanya aku tidak ikut. Kau dimana sekarang? Aku hendak mengajak kau menyusul mereka. Bergabung dengan Tim SAR melakukan pencarian”
“ Aku sekarang di Bandung. Lalu bagaimana ini? Aduuh,”
“ Alamak, bagaimana ini. Aku tiada kawan hendak berangkat,perlatanku juga dipinjam sama mereka.”
“ Baik, aku akan segera terbang ke Padang Malam ini juga. Masalah peralatan, kau ambil saja di rumahku.., aduh terlupa pula. Peralatanku juga di bawa mereka. Atau, sekarang begini saja, aku transfer uang. Kau beli semua yang kita butuhkan. Nanti, kita langsung berangkat ok.!!”
“Ok, aku tunggu. Sampai nanti Ian,.”
Sontak suasana menjadi tegang. Rian sesegera mungkin menghubungi asistennya untuk mencarikan tiket penerbangan menuju Padang malam ini.
“ Maaf pak, malam ini tidak ada penerbangan dari Bandung menuju Padang. Adanya Cuma dari Jakarta, berangkat pukul 22.00, bagaimana pak?” Asisten Rian melaporkan perihal tiket penerbangan menuju Padang malam ini.
“ Hmm, Ok. Kau booking-kan tiket itu segera dan carikan aku taksi menuju Bandara Soekarno-Hatta sekarang. Aku rasa masih sempat, sekarang baru pukul enam sore. “
“ B..bbaik pak., “ Asisten Rian segera memesann tiket penerbangan Jakarta-Padang dan mencarikan taksi.
Lima belas menit kemudian, taksi yang dipesanpun sampai di hotel dimana Rian menginap. Ia langsung berangkat tanpa mempedulikan barang-barangnya yang masih tertinggal di kamar hotel. Pikirannya sudah berkecamuk dengan segala perasaan yang bergejolak didalam hatinya. Semuanya menyesakkan dada. Hingga butiran-butiran bening  mulai mengalir dari matanya.
***
“ Halo, Zi.! Engkau dimana sekarang? Aku sudah sampai di Padang,” waktu menunjukkan pukul 23.30. Ian baru saja sampai di Bandara Internasional Minangkabau, Padang.  
Iya Ian. Aku sekarang masih di rumah . Di sini hujan deras sekali. Engkau yakin akan menyusul ke Marapi malam ini juga? “ Fauzi menyahut dengan nada bicara sedikit ragu.
“ Harus malam ini juga!! Tidak bisa di tunda lagi. Kau sudah beli semua peralatan yang kubilang tadi? Perlengkapan makanan, obat-obatan?”
“ Su..s..sudah, ok. Kita bertemu di Pasar Koto Baru. Aku akan berangkat sekarang juga dengan menggunakan mobil.”
“ Ok, aku sampai ketemu.”
Baru saja keluar dari kawasan Bandara. Rian langsung berangkat menuju Pasar Koto Baru,Padang Panjang dengan menggunakan taksi. Pasar itu merupakan tempat dimana para pendaki baik yang ke Marapi atau Singgalang berkumpul.
Rian sangat bersyukur. Kota Padang khususnya di kawasan Bandara di turun hujan. Sehingga tidak hambatan ketika pesawat hendak mendarat. Meskipun saat itu di daerah sekitar Gunung Marapi dan Singgalang tengah turun hujan lebat.
***
Taksi melaju dengan kecepatan sedang. Saat itu, Rian sudah memasuki kota Padang Panjang. Hujan masih turun dengan derasnya. Kondisi seperti sedikit mengaburkan penglihatan pengemudi mobil saat itu. Jalanan terlihat agak sepi. Di sepanjang jalan  hanya terlihat beberapa sepeda motor yang tengah parkir di depan gerai-gerai yang berjejer di tepi jalan Padang- Bukittinggi.
Tepat pada pukul satu dinihari. Rian sampai di Pasar Koto Baru. Di sana sudah terlihat Fauzi tengah menunggu bersama  mobil avanzanya.
“ Pak, berhenti di pasar  saja. Di dekat mobil avanza silver itu. Teman saya sudah menunggu disana” Seru Rian seraya menunjuk ke arah mobil avanza yang parkir di depan pasar.
“ Baik, Pak.” Taksi menepi masuk ke dalam kawasan pasar. Mendekati mobil avanza yang tengah parkir di depan pasar.
“ Ini pak, terima kasih..” Seru Rian seraya memberikan uang seratus ribuan sebanyak dua lembar.
“ Ini kembaliannya pak “ Si sopir menyodorkan uang lima puluh ribu.
“ sudah pak, ambil saja kembaliannya “ sahut Rian seraya beregegas  keluar dari taksi itu.
Rian segera mendekati Fauzi .
“ Maaf menunggu lama..” Sapa Rian dengan nada bicara yang sedikit dingin.
“ Tak apa., kita berangkat sekarang? “
“ Iya , sekarang. Kita harus buru-buru. Persetan dengan cuaca, kita harus segera menyusul”
“ Baiklah, perlengkapan semuanya sudah ada di mobil. Kau segera ganti baju , aku sudah persiapkan semuanya. Ganti saja di dalam. Kita berangkat sekarang”
Tanpa banyak bicara lagi. Rian dan Fauzi langsung bergegas berangakat menuju pos pendakian yang jaraknya kira-kira lima kilometer dari pasar itu. Hujan masih enggan untuk berhenti. Memang, ada sedikit keraguan dari Fauzi untuk tetap berangkat malam ini. Namun, ia enggan untuk mengikuti keraguannya itu pasal wajah Rian terlihat sangat dingin dan tidak bersahabat. Rasanya mengutarakan keraguannya itu hanya akan memancing amarah Rian.
Lima belas menit kemudian. Rian dan Fauzi akhirnya sampai di pos pendakian pertama. Disana sudah terlihat beberapa rombongan pendaki yang tengah beristirahat dan beberapa orang berseragam orange yang tengah bersiaga di pos pendakian tersebut.
“ Ayo, kita sudah sampai “ Seru Fauzi mengajak Rian turun setelah memarkirkan mobilnya di depan pos.
Rian dan Fauzi bergegas turun dari mobil dan menuju pos pendakian. Semua perlengkapan sudah siap, tak terkecuali baju tebal berlapis parasut. Mereka langsung mendekati sekelompok orang berbaju orange yang tengah bersiaga di depan pos.
“ Selamat malam pak, kami ini teman dari para pendaki yang dikabarkan hilang tadi pagi. Kami bermaksud hendak ikut dalam pencarian.“ Fauzi menyapa petugas tersebut. Sementara Rian masih diam dengan tatapan yang dingin
“ Selamat malam! Oh kalian teman-teman dari mereka. Ya, kalian bisa bergabung dengan tim yang akan berangkat besok pagi. Saat ini cuaca tidak memungkinkan untuk menyusul tim yang sudah berangkat tadi siang. Kami juga terus memantau perkembangan, harapan kita teman-teman kalian  ditemukan secepat mungkin. Jadi kita tidak perlu mengerahkan banyak orang dalam pencarian. “ jawab petugas ramah.
“ Ayo zi, kita lekas berangkat. Kita tidak bisa menunggu lagi.” Tanpa menghiraukan saran dari petugas. Rian langsung menarik Fauzi menjauh dari petugas tersebut dan langsung mengajak Fauzi meneruskan perjalanan.
“ Tapi Ian…” Belum sempat hendak melanjutkan pembicaraan, Rian keburu memotong.
“ Kalau kau ragu, silahkan tinggal di sini. Duduk manis dengan petugas itu, menyeduh kopi panas, dan terus tidur dengan selimut tebal hingga pagi. Aku akan melanjutkan perjalanan ini sendirian.” Tegas Rian dengan tatapan yang tajam dan menakutkan.
“ Baiklah.., aku akan ikut dengan kau. Tak akan lah kubiarkan temanku yang bela-belaan pulang dari Bandung pergi sendirian. Ayo, gunakan jas hujan yang telah ku beli tadi. Lihat! Hujan semakin deras.” Fauzi melepaskan keraguannya. Berkata dingin, berusaha menutupi ketakutannya akan kemungkinan buruk yang ia alami nantinya.
Tanpa banyak bicara lagi. Rian dan Fauzi langsung bergegas meninggalkan pos dan melanjutkan perjalanan. Mereka tidak menghiraukan sedikitpun cuaca yang semakin buruk dan suhu pegunungan yang sangat dingin. Di hati dan pikiran mereka hanya ada teman-teman mereka yang belum ditemukan hingga saat ini.
“ Kau tahu zi, bagiku teman adalah segalanya. Baik itu sahabat dekat ataupun mereka yang sama sekali tidak mengenaliku namun aku mengenalinya. Tiada yang kutakuti ketika ingin melindungi teman-temanku. Aku tidak akan menghentikan langkahku hingga aku bisa melihat mereka semua. Apalagi di antara mereka ada orang yang sangat aku cintai. Maafkan aku, jika ini semua menyusahkanmu,” Rian berbicara seraya melanjutkan langkah menempuh medan pendakian yang licin.
“ Kau tenang saja Ian, mereka juga teman-temanku. Akupun berfikir sama dengan kau, maafkan aku, aku masih sedikit takut. Aku berterima kasih, tekad dan keberaniamu sedikit mengurangi ketakutanku,” Fauzi menanggapi seraya mengukirkan senyum kepada Rian
“ Terima kasih. Ayo lanjut! Jangan risaukan medan yang licin dan hujan ini. Kita usahakan sebelum subuh kita sudah sampai di batas vegetasi. Mudah-mudahan hujan sudah reda ketika  kita sampai disana.” Sahut Rian dengan semangat seraya membalas senyuman Fauzi.
***
Di ketinggian 2650 mdpl. Jam menunjukkan Pukul 03.45 dini hari. Hujan belum menunjukkan tanda-tanda akan reda. Suhu udara semakin dingin saja. Kabut yang semakin tebal. Memperpendek jarak pandang dan semakin membahayakan perjalanan dikarenakan di kiri-kanan terdapat jurang yang sangat dalam.
Sudah hampir tiga jam Rian dan Fauzi menempuh jalur pendakian. Cuaca yang begitu dingin membuat Fauzi terlihat sedikit menggigil meskipun ia mencoba terus untuk menutupinya. Ditambah lagi sebagian dari pakaian yang ia kenakan basah sehingga itu semakin membuatnya kedinginan. Sementara Rian. Wajahnya semakin memperlihatkan ketakutan yang sangat mendalam. Terbayang kondisi dua belas orang temannya dalam kondisi cuaca yang seperti ini.
“ Ri..ri..an, apa masih jauh Ian? rasanya kita sudah berada di batas vegetasi. Engkau lihat di sini sudah sedikit sekali pepohonan. Namun sama sekali belum terlihat tanda-tanda keberadaan orang disini. Apa kau yakin Ian? ada pos darurat di sekitar sini?” Fauzi mulai terlihat cemas. Semakin ragu. Tubuhnya menggigil. Seperti tidak kuat lagi melanjutkan perjalanan.
“ Kau tenang Zi, kita baru memasuki kawasan batas vegetasi. Aku yakin, tidak jauh dari sini ada pos darurat. Ini hanya karena kabut yang begitu tebal. Sehingga jarak pandang kita sedikit terbatas. Bersabarlah.!” Rian mencoba tenang. Menepis semua ketakutan yang sebenarnya menyelimuti hatinya. Ia tidak mau temannya ini juga merasakan ketakutan yang sangat mendalam.
Beberapa menit kemudian. Ketika mereka sudah menyebrangi parit kecil yang ada dikawasan itu. Tiba-tiba…
“ Zi, kau lihat cahaya merah itu? Rasanya disana  ada beberapa kemah yang berdiri. Ayo lekas kita menuju kesana. Mudah-mudahan kita bisa mendapatkan informasi atau bantuan disana dan ku rasa kita memang harus beristirahat sejenak .” Seru Rian seraya menunjuk kearah cahaya merah yang terletak beberapa meter dari tempat mereka berdiri.
Tanpa bicara sepatah katapun. Fauzi langsung mengikuti langkah Rian menuju tempat yang dimana cahaya merah itu berada. Kabut yang begitu tebal, jalan licin dengan bebatuan cadas yang tajam membuat mereka harus berhati-hati. Belum lagi di kiri dan kanan jalan yang mereka tempuh terdapat jurang yang dalam.
Selang beberapa menit kemudian. Ketika mereka sudah sampai di dekat kemah-kemah itu didirikan. Tiba-tiba Rian berseru dengan kerasnya.
“ Fauzi, coba kau lihat kemah itu..!!” Seru Rian seraya mengarahkan lampu senter ke tenda doom yang hanya beberapa meter dari tempat ia berdiri.
“ Mana..? “ Fauzi bergegas menuju tempat Rian berdiri.
“ Itu..!, Bukannya itu mirip sekali dengan tenda doom kepunyaan kau. Tadi sewaktu di telpon kau bilang peralatan kau dipinjam semua bukan”
“ Iya., tidak salah lagi, itu tendaku yang kupinjamkan kepada Delia. Nah tenda yang satu itu, bukannya tenda kau Ian?” Fauzi juga mengarahkan senternya ke arah tenda yang berada persis di samping tenda yang ditunjukkan Rian tadi.
“ Iya benar, itu tenda yang kupinjamkan kepada Dahlan. Apa ini berarti…”
“ Maaf, kalian ini siapa? “ Tiba-tiba  orang berseragam orange  menghampiri mereka
“ Oh, Pak, maaf! Rasanya saya mengenali beberapa tenda yang ada disini. Apa di sini kemah para pendaki yang diberitakan hilang kemarin pak? Apa mereka sudah ditemukan? “ Rian langsung menanyakan perihal tenda-tenda yang ia lihat.
“ Oh iya, memang benar, ini kemah mereka. Mereka telah empat jam yang lalu di sekitar taman edelwies dan dibawa ke sini untuk di istirahatkan. Di sini adalah pos darurat, kami sengaja mengistirahatkan mereka di sini karena tidak memungkinkan untuk segera kembali ke pos utama,di bawah,cuaca begitu buruk. Apa kalian ini teman-teman mereka?”
“ Iya pak,kami ini adalah  teman-teman mereka yang awalnya hendak menyusul dan ikut melakukan pencarian. Lalu, bagaimana keadaan mereka sekarang pak?”
“ Sebagian dari mereka ada yang kondisinya lemah pada saat ditemukan tadi. Tetapi Alhmdulillah, mereka sudah pulih kembali. Sekarang mereka sedang beristirahat.”
“ Syukurlah, kami sangat senang mendengarkannya. “ wajah Rian langsung berubah cerah. Rasanya penatnya mendaki, menempuh medan yang licin disertai hujan lebat hilang setelah mendengarkan kabar ini.
“ Rian..,?” tiba-tiba seseorang keluar dari salah satu kemah yang ada di sana. Seorang perempuan.
“ Delia? Kau kah itu? “ Rian menanggapi panggilan itu seraya mengalihkan pandangannya ke sumber panggilan tersebut.
“ Iya Ian, ini aku. Astaga, kau menyusul Ian? bukankah kau seharusnya masih di Bandung saat ini?” Delia bertanya heran
“ Kau tahu Del. Seluruh Indonesia sudah mengetahui berita kehilangan kalian di gunung ini. Aku sengaja pulang lebih awal karena aku ingin ikut melakukan pencarian. Oh iya, Dahlan dan Rani mana? Bagaimana keadaan mereka?”
“ Dahlan, dia masih belum sadar. Tadi aku sudah memeriksa keadaannya, dia sudah sedikit membaik. Kita sama-sama berharap dia akan segera sadar.”
“ Kalau Rani bagaimana keadaanya?”
“ Kalau Rani..” Delia terdiam, ada sedikit perasaan yang sangat menyesakkan hati ketika ia menyebutkan nama itu.
“ Del, Rani bagaimana..? “ Rian mendadak cemas, melihat wajah Delia yang tiba-tiba terlihat seperti menyembunyikan.
“ Kau harus sabar Ian, Petugas akan segera melakukan pencarian kembali. Dia masih belum di temukan. Maafkan aku Ian, seharusnya aku terus berada disisinya sewaktu kami tersesat tadi. Kabut yang sangat tebal membuat aku kehilangan arah dan melupakan Rani yang saat itu terluka karena terpeleset. Maafkan aku Ian..” Delia tersungut sebak, penuh penyesalan, apalagi tatkala melihat Rian saat ini. Ia teringat curahan hati Rani sebelum ia hilang.
Tanpa berbicara sepatah katapun. Rian langsung meninggalkan Delia di depan tendanya. Menghampiri Fauzi yang saat itu tengah duduk melepas penat di depan api yang dinyalakan di dalam suatu wadah besi.
“ Fauzi, kau tetap tinggal disini. Tolong kau obati semua teman-teman  kita yang ada di sini.”  Wajah Rian Tiba-tiba terlihat begitu dingin. Nafasnya sesak. Sebak hati yang berusaha disembunyikan.
“ Engkau mau kemana? Kenapa wajahmu seperti itu?”
“Aku tidak akan membiarkan Rani sendirian di atas sana. Aku harus segera menemukannya.”
“ Maksud kau? Rani masih belum ada di sini? Dan kau akan melakukan pencarian sendiri saja?”
“ Apa? Engkau akan mencari temanmu sekarang? Jangan bertindak gila.!!, apa kau tidak bisa melihat cuaca sekarang hah? Kau mau cari mati?” Tiba-tiba, salah seorang petugas berbadan gempal menghampiri Rian dan Fauzi.
“ Persetan dengan cuaca. Aku tidak peduli! Aku harus segera menemukan temanku. Aku tidak bisa menunggu lagi!” Rian berseru tegas, tak peduli seberapa menyeramkannya petugas yang mencegahnya tadi.
“ Kau ini mau mati hah? Kami saja sudah tidak sanggup lagi dengan cuaca yang seperti ini. Lah,kau. Nak berlagak macam pahlawan, bodoh! Kau sangka  medan perjalanan menuju taman edelwies itu seperti perjalanan dari rumah kau menuju Jam Gadang hah? Bersabarlah sikit!, cuaca seperti ini bisa membunuh kau!” Petugas itu semakin garang. Perawakannya yang tinggi gempal membuat ia semakin terlihat menyeramkan
“ Kau diam saja! Kau tidak mengerti apa-apa! Bagaimana aku bisa tetap diam disini kalau Temanku sendirian disana. Apalagi dengan cuaca seperti ini. Aku bukan orang seperti kau!, yang masih bisa menyeduh kopi panas dan manyantap roti tawar. Sementara nyawa seseorang terancam di atas sana. Jangan coba-coba mencegah langkahku!” Rian pun tak kalah tegasnya. Ia seolah tidak mempedulikan kegarangan petugas yang mencegahnya saat itu.
“ Kau..!!!” Petugas tersulut emosi. Beberapa dari mereka mencoba menenangkan. Teman-teman Rian yang saat itu masih beristirahat di dalam tenda langsung keluar karena kegaduhan tang terjadi di luar tenda. Mereka kaget, ada Rian di sana yang tengah di pegangi oleh Fauzi dan beberapa petugas berbaju orange  yang ada disana.
“ Rian? Sejak kapan kau ada di sini? Dan ada apa ini? kenapa ribut-ribut?” Fikri, salah satu teman Rian, baru keluar dari tenda dan langsung heran dengan situasi yang ada di luar. Apalagi ketika ia melihat Rian ada di sana.
“ Ini teman kau yang bodoh ini. Nak berlagak macam pahlawan, ingin melakukan pencarian sendiri. Nak cari mati..!!” Petugas tadi masih dengan emosinya. Sementara wajah Rian terlihat semakin dingin. Menatapi petugas itu dengan tatapan yang tajam.
“ Sudah, biarkan saja ia pergi! “ Fauzi tiba-tiba angkat bicara. Dengan tegas ia menyuruh kepada semua yang ada disana untuk membiarkan Rian melakukannya sendiri.
“ Kau..?!!” Petugas tadi semakin tersulut emosi tatkala Fauzi membenarkan tindakan Rian.
“ Kau yang benar saja zi, kita sudah cukup stres dengan memikirkan Rani yang sampai saat ini belum ditemukan. Sekarang Rian lagi, “ Fikri menyalahan tindakan Fauzi yang menyuruh semua yang ada disana agar membiarkan Rian tetap pergi.
“ Kau tidak tahu apa-apa Fik, dan kalian semua yang ada di sini tidak mengerti apa-apa. Jika saja Dahlan sudah sadar dan mengetahui hal ini. Ia mungkin akan memiliki sikap dan tindakan yang sama denganku. Menyetujui tindakan Rian melakukan pencarian sendirian. Kalian lupa hah? Siapa Rian? Dia pernah menjabat sebagai ketua divisi SAR di SISPALA sekolah kita dulu dan dia pun pernah menjalani pendidikan DIKSAR sewaktu kuliah dulu.”
“ Kau jangan ikut-ikutan bertindak bodoh zi! Kau hanya…”
“ Cukup Fik, sekarang kau lanjutkan saja istirahatmu. Urusan Rian usah kau risaukan! Dia tahu apa yang ia lakukan.”
“ Ini gila, sungguh gila. Kalian tidak faham sama sekali..!! coba kalian lihat kabut yang tebal itu, angin kencang dan hujan yang semakin lebat” Fikri masih bersikukuh menentang keputusan Rian.
“ Kau yang tidak faham, bodoh!!” Rian yang sedari tadi diam dan bersikap dingin tiba-tiba membentak Fikri. Semua yang disana kaget dengan sikap Rian tersebut.
“ Kau bilang aku bodoh?!” Fikri tidak terima
“ Iya bodoh, kau katakan cuaca yang buruk, kabut tebal, hujan deras. Namun kau tiada terfikirkan sedikitpun bagaimana kondisi Rani disana. Ok, mungkin bagi kau Rani tidak begitu berarti. Tapi coba aku tanya, jika kau berada di posisi ku saat ini, apa yang akan kau lakukan ? Bagaimana perasaan kau jika sahabat terdekat kau tinggal sendirian di tengah kondisi alam yang seperti ini? bagaimana perasaan kau jika orang yang kau cintai secara diam-diam selama sepuluh tahun kedinginan tiada pelindung dan penghangat sedikitpun. Dan kau tidak bisa memastikan dimana dia sekarang berada. Kau fikirkan itu Fik!, fikirkan! Dia itu perempuan, sendirian ditempat yang tidak jelas dan berbahaya.
“ Untuk kalian semua yang ada di tempat ini. Dengarkan aku baik-baik! Sekuat apapun kalian mencegahku agar tidak  pergi sekarang. Itu hanya akan sia-sia. Aku tetap akan pergi. Dan aku tegaskan. Aku akan tetap kembali ke sini bersama Rani. Baik itu aku dan Rani kembali dalam keadaan sama-sama hidup, atau Aku kembali dengan jasad Rani saja, atau yang kembali hanya nama kami berdua. Aku sudah siap dengan apa yang akan ku hadapi nanti. Nyawaku, kupertaruhan di sini, demi Rani.” Penuh emsional, Rian menyatakan tekadnya dengan mata yang berkaca-kaca.
Semua yang di sana hanya bisa terdiam . Mereka tidak bisa berbicara apa-apa lagi. Fikri, yang awalnya begitu kokoh melarang Rian untuk pergi. Akhirnya tersungkur dengan tangisan yang tidak bisa ia bendung. Ia menyesal dan merasa bersalah . Menyesal karena sudah bersikap seolah tidak mengerti dengan apa yang Rian salahkan. Merasa bersalah karena ia tidak bisa melakukan apa-apa untuk Rian. Hendak ikut membantu, tetapi kondisi fisiknya sangat lemah karena terkena suhu ekstrim Gunung Marapi ketika tersesat tadi.
“ Fauzi, aku percayakan semua teman kita kepada kau. Kau rawatlah mereka hingga mereka benar-benar pulih. Mudah-mudahan cuaca buruk ini akan segera berakhir dan semuanya bisa menuruni gunung ini dengan mudah.  Dan kau Delia, rawatlah Dahlan. Perhatikan makannya. Jika ia kedinginan,kau pakaikan jaket tebal kulit yang kubawakan ini. Jika ia masih merasa tidak nyaman, kau balurkan balsem ke lehernya.”
“ Untuk semuanya,  ini aku punya dua handphone. Yang satu aku tinggalkan di sini bersama kalian dan yang satunya lagi aku bawa. Ini masih full battery dan sengaja aku persiapkan jika berada dalam kondisi seperti ini. Karena aku tahu, alat komunikasi kalian sudah mati semua karena habisbattery.Aku akan kabarkan melalui handphone ini kepada  kalian jika nanti ada perkembangan.”
“ Oiya satu lagi, Jika menjelang Senin sore masih tidak kabar dariku. Jangan terlalu lama menunggu. Kalian silahkan turun meninggalkan tempat ini. Jangan cari aku. Ingat apa yang kutegaskan tadi. Aku akan tetap kembali,meskipun hanya dengan nama.”
Tiada satu patah katapun yang keluar dari mereka yang berada di perkemahan kecil itu. Termasuk petugas berseragam orange yang tadinya terlihat  begitu marah kepada Rian. Delia tak kuasa menahan tangis setelah mendengar kata-kata Rian tadi. Fauzi hanya terdiam, memaksa dirinya agar tidak terbangun. Sementara Fikri, dengan sesungutan ia meraih Rian dan memeluknya erat.
“ Kau hati-hati Ian. Maafkan aku. Aku berharap kau dan Rani kembali dalam keadaan sehat. Aku tunggu kabar baik itu.”
“ Kau tenang saja Fik. Sudah, hentikan tangismu. Jangan sampai membangunkan sembilan orang teman kita masih beristirahat. Tolong jaga mereka semua. Bantu Fauzi dan Delia, ya” Ucap Rian dengan senyum seraya menghapus air mata Fikri dengan ujung tangannya.
“ Delia, jika Dahlan menanyakan Rani. Katakan saja ia bersamaku, bilang aku menyusul dan mengajak Rani ke Taman Edelwies.”
“ B…ba…ik Ian “ Jawab Delia  yang masih sesungukan.
“ Baiklah, aku pergi sekarang. Doakan aku.”
Rian akhirnya pergi meninggalkan perkemahan kecil itu dan berjalan ke arah puncak Marapi. Seperti halnya ketika berangkat tadi. Hujan lebat, angin kencang, dan suhu udara yang dingin ia abaikan begitu saja. Sementara teman-temannya hanya bisa menatap dengan tatapan pasrah namun penuh harap. Berharap alam berbaik hati dan membantunya dalam menyelesaikan semua ini.
***
Keberadaan matahari sudah mulai dirasakan. Meskipun hujan masih turun di sertai angin kencang dan kabut yang semakin tebal. Pandangan hanya bisa melihat batu-batu keras dan tajam yang terletak hanya lima meter dari pandangan. Dan Aroma belerang terasa semakin menyengat. Bahkan mampu masuk menembus penutu hidung. Ya, ini kawasan puncak,sangat dekat dengan kawah utama dan tidak jauh dari taman Edelwies.
Jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Sudah lebih tiga jam Rian menempuh perjalanan dari perkemahan tadi hingga ia sampai di kawasan taman Edelwies yang letaknya tidak jauh dari puncak utama Gunung Marapi, Puncak Merpati. Dan sampai saat ini, ia masih belum menemukan tanda-tanda keberadaan Rani.
Perjalanan masih terus dilanjutkan. Sesekali ia terpleset dan tangannya mengenai batu-batu cadas yang tajam ketika menopang badannya saat terpleset. Suasana saat itu sangat mencekam. Bunyi tiupan angin terdengar sangat menakutkan. Belum lagi hujan yang semakin deras.
“Apa aku harus berhenti di sini dan mendirikan kemah? Ah tidak, Rani masih belum di temukan. Aku tidak boleh berhenti. Tidak..” Rian bergumam. Menguatkan hati dan langkahnya. Ia harus tetap bertahan ia menemukan tanda-tanda keberadaan Rani.
Selang beberapa menit kemudian. Tepat di dekat kawah mati yang berada di sebelah utara taman edelwies. Tiba-tiba matanya tertuju pada benda berwarna merah tua yang tergeletak di bibir kawah mati tersebut. Ia langsung mendekati benda itu, berharap itu adalah petunjuk.
Ketika sudah sampai di dekat benda tersebut. Alangkah terkejutnya ia ketika ia mengetahui bahwa benda berwarna merah tua itu adalah ransel kepunyaan Rani. Serta merta hatinya berkecamuk. Melihat ransel tersebut hanya tergeletak di bibir kawah dan tanpa ada pemiliknya di sana.
“ Ini…? Tidak mungkin.., tidak mungkin, Rani….” Rian berteriak, meraung saat melihat Ransel itu tanpa pemiliknya di bibir kawah. hal itu semakin menakutkan ia karena kawah mati tersebut terkenal angker. Banyak yang  hilang dan hanya meninggalkan barang bawaan di sekitar kawah itu dan tidak akan bisa di temukan lagi.
Namun, ia masih belum menyerah. Ia yakin kalau Rani masih bisa ditemukan. Kemudian, dengan sisa-sisa tenaga yang ada. Maka ia berusaha mencari Rani di sekitar kawah tersebut. Berharap Rani masih berada di sekitar sana, tersembunyi di sekitar bebatuan, terhalangi oleh kabut tebal  dan hanya meninggalkan barang-barangnya disana.
Namun, semua itu seolah sia-sia saja. Setelah satu jam menyisir ke semua tempat yang ada di sekitar kawah tersebut. Tiada satupun tanda-tanda yang menyatakan  bahwa Rani bakal di temukan. Hanya ada batu-batu besar yang hanya bisa dilihat jika didekati, karena kabut yang semakin tebal.
“ Arrrgg.., Rani, Engkau dimana..???!”  Rian berlutut di bibir jurang yang berada tak jauh dari kawah mati tersebut. Meraung dengn raungan yang sangat memilukan.
“ Rani, bagaimana bisa aku kembali kalau kau tidak ditemukan? Arrrrrggh…”
“ Iaaan….” Tiba-tiba terdengar suara yang sayut-sayut sampai. Menggigil dan sangat lemah.
“ Rani..? kau kah itu? Ranii……” Rian kaget ketika mendengarkan suara itu. Meskipun terdengar kurang jelas. Namun ia memanggilnya kembali, berusaha meyakinkan
“ Iaaan.., tolong aku.., aku di bawah..” Benar. Itu adalah suara Rani yang terdengar dari dalam Gua kecil yang berada sedikit lebih ke bawah dari tempat Rian berdiri.
Secepatnya Rian turun menuju Gua tersebut. Dan ketika ia sampai di bibir gua, Alangkah terkejutnya ia ketika melihat Rani terbaring lemah dengan wajah yang sangat pucat dan menggigil.
“ Ian.., akhirnya kau datang juga ..”
“ Rani, kau harus ku bawah pindah ke atas. Kau pakai jaket tebalku ini. ayo kita pindah..”
“ Ian.., aku rasanya nyaman di sini. Tak usahlah kau berepot-repot membawaku ke atas”
“ Bodoh..! kau jangan bertingkah, di sini sangat dingin, kau turuti saja kata-kataku” 
“Sudahlah Ian, disini saja. Lebih aman, kau lihat hujan masih turun kan. Jika kita tetap disini, kita tidak akan terkena hujan” Rani terlihat semakin lemah. Wajahnya semakin pucat dan suaranya terdengar semakin memilukan.
“ Rani.., bisakah itu menuruti kata-kata orang mencintaimu ini hah..?? tolongalaaah Ran. Jangan bersikap seperti itu. “ Rian berseru dengan nada bicara yang sedikit serak. Sebak dan air matanya mulai mengalir
“ Kau mencintaiku? Sungguh? “
“ I..iiyaa..”
“ Kau lihat edelwies yang tumbuh serumpun di bibir gua itu? Aku ingin kau mengambilkannya untukku, setangkai saja”
Mendengarkan itu, maka bergegaslah Rian menuju bibir gua mengambilkan bunga edelwies itu beberapa tangkai untuk Rani.
“ Ini Ran..” Rian memberikan bunga Itu ke tangan Rani
“Terima kasih. Ian, kau bilang tadi kau  mencintaiku..?”
“ Iya Ran, semenjak sepuluh tahun yang lalu. Saat aku pertama kali mengenal kau..”
“ Bodoh! Kenapa kau tidak pernah menyatakannya? Hingga rela membiarkan diriku jomblo. “ kata Rani seraya mengukirkan senyuman dengan sisa-sisa tenaganya.
“ membiarkan  kau Jomblo? Jadi kau?” Rian bertanya heran
“ Iya, akupun sama mencintaimu dari sepuluh tahun yang lalu. Ian.., kau lihat bunga ini. kata orang bunga edelwies itu adalah simbol keabadian. Meskipun aku tak tahu mengapa bunga ini dikatakan seperti itu. Namun, kali ini aku ingin mempertegaskan bunga ini sebagai ke abadian. Aku ingin cinta kita ini aba……..” tiba-tiba Rani terdiam, wajahnya semakin pucat, bibirnya membiru..
“ Ran.. Rani. Kau tidak apa-apa kan? “ Rian mengguncangkan tubuh Rani, namun tiada reaksi.
“ Rani,…, rani.., tolonglah jangan bercanda! Ini tidak lucu!, Ayo Rani..,ku mohon!!, banguuuuun…” tiada reaksi sedikitpun. Tubuh Rani sudah kaku.
“Rani, jangan tinggalkan aku Rani.!, Rani…!! Ayo bangun Rani!! Kau akan kembali bersamaku. Kita sering-sering berkumpul lagi di taman Kota tempat biasa kita berkumpul, menjahili Dahlan. Dan aku janji akan senantiasa memanggilmu Bidadari tanpa menyertakan kampung Pisang. Ayo Rani.., banguuuuun.” Sia-sia, Rani hanya terdiam kaku dengan senyuman kelu dari bibirnya yang sudah membiru. Ia terlalu lemah dengan cuaca se-ekstrim ini bertahan. Dia kedinginan, sendirian, dan tanpa makanan sedikitpun di gua kecil ini selama lebih dua puluh empat jam. Ia sudah pergi, untuk selamamya dengan keabadian cintanya kepada Rian yang ia bawa hingga akhir dunia ini dan Sekuntum edelwies menjadi saksi dari semua itu.
Rian, tiada yang bisa ia lakukan lagi selain mengikhlaskan semua itu. Dengan tangisan yang sangat memilukan. Rian membungkus jasad Rani dengan sleeping bag dan membawa jasadnya pulang. Menuju tempat dimana teman-temannya berada. Tanpa hendak meminta pertolongan sedikitpun, ia membawanya sendiri.
 
=TAMAT=

 

NB : ini adalah pemenang lomba juara cerpen di pokjar selatan,untuk lebih jelasnya 

klik :http://www.pokjarselatan.com/2014/03/edelwies.html