Ahei Dan Ashima


Ajarkan aku mantra pemikat cinta Ahei dan Ashima, maka akan kutaklukkan penghalang segala rupa agar sampai cintaku padanya.
(kutipan novel assalamuailaikum beijing – asma nadia )
Hanya beberapa saja jam membaca akhirnya selesai juga, buku yang memikat pandangan mata untuk kubaca.  tentang mereka yang meperjuangkan cintanya membuat ku percaya akan kegigihan cinta dan perjuangan cinta jonghwen terhadap asmara #kaya punya pacar aja. disisi lain ceita menarik tetang mereka ada ceita tentang cinta ahei dan ashima yang membuat ku menarik juga berikut cerita mereka yang ku ambil dalam blog ( http://indonesian.cri.cn/1/2004/06/30/1@11896.htm )

 

” Ada suatu daerah pemandangan yang terkenal di Provinsi Yunnan Tiongkok barat daya dan dijuluki sebagai “pemandangan ajaib nomor satu”, itulah Hutan Batu. Dalam Ruangan Bertamasya di Tiongkok edisi ini, saudara akan kami ajak menyaksikan Hutan Batu tersebut.

Dari Kunming, ibukota Provinsi Yunnan bermobil ke arah tenggara menyusuri jalan yang mulus sepanjang 120 kilometer, akan tampak dari jauh hamparan hutan yang hijau rindang, tapi begitu sampai di depannya, ternyata bukan “lautan hutan”, melainkan adalah gugusan batu yang menjulang tinggi. Inilah yang dikenal dengan Hutan Batu.

Mengenai asal muasal hutan batu itu, pemandu wisata Yang Jinhua mengatakan,

Hutan Batu terjadi pada Zaman Perem sekitar 270 juta tahun yang silam. Ketika itu, daerah ini merupakan laut yang luas dengan batu-batu kapur dan banyak biota laut yang hidup di dalamnya.

Hutan Batu merupakan bentuk khas topografi karst yang terdiri dari batu kapur sangat tebal. Melalui perubahan tektonik kerak bumi pada masa sesudahnya, daerah ini berubah menjadi darat dan batu-batu menyembul ke permukaan bumi. Sekitar dua juta tahun yang lalu, pada tubuh batu kapur terjadi retakan yang panjang, dalam dan jarang akibat kerja pelarutan batu kapur, dan air hujan terus menerus merembes ke bawah menyusuri retakan-retakan itu dengan menimbulkan korosi pada tubuh batu-batu itu sehingga akhirnya pilar-pilar batu itu terpisah satu sama lain menjadi bentuknya seperti sekarang ini.

Hutan Batu luasnya lebih 26.000 hektar. Daerah pusatnya saja yang dibuka untuk pariwisata luasnya 80 hektar, merupakan daerah yang paling memusat hutan batunya. Sebuah batu raksasa yang berukirkan huruf ” Shilin” atau “Hutan Batu” tegak berdiri bagai pintu gerbang, sekaligus bagai tuan rumah yang ramah menyambut kedatangan tamu.

Begitu memasuki daerah Hutan Batu, menyusuri jalan sepanjang lebih 1.200 meter, tampak batu-batu tinggi besar berdiri tegak dalam aneka gaya, ada yang berbentuk seperti pilar, ada pula yang menyerupai pedang atau pagoda, ada yang mirip singa atau harimau, ada pula yang tampak seperti onta, banteng, dan lain sebagainya.

Hutan batu itu tinggi rendah dalam berbagai bentuk dan gaya, ada yang tingginya lebih 30 meter, ada pula yang hanya 5 meter, ada yang menjabal sendirian, ada pula yang bersambungan seperti bukit barisan. Di antara bukit-bukit batu itu terdapat koridor melingkar-lingkar yang terdiri dari selokan yang dalam, lubang-lubang di bawah tanah yang dalam bagai labirin. Kesemua itu membentuk pemandangan istimewa yang banyak dikagumi oleh cendekiawan dari zaman ke zaman.

Pemandu wisata Yang Jinhua mengatakan,

Untuk menikmati keindahan pemandangan di Hutan Batu, perlu imajinasi. Tanpa imajinasi, batu-batu itu tetap adalah batu baik dilihat dari jauh maupun dekat. Tapi dengan mengembangkan imajinasi, batu-batu raksasa itu menjadi hidup bagai aneka benda dan makhluk.

Pemandangan yang ajaib dan indah membuat wisatawan terkagum-kagum, dan batu-batu yang aneh bentuknya itu membuat orang berkhayal membayangkannya. Dari zaman dahulu sampai sekarang, tersiar berbagai macam dongeng dan cerita yang menarik tentang batu-batu itu.

Salah satu di antaranya adalah kisah yang menarik tentang Ashima. Di Hutan Batu ini ada sebuah batu yang bentuknya mirip seorang gadis. Konon, itulah patung setengah badan Ashima, tokoh utama sajak cerita panjang etnis Shani. Patung Ashima itu tampak seperti ia sedang berdiri di depan pintu rumah menantikan Ahei, suaminya yang pulang dari menggembalakan ternak di gunung yang jauh.

Konon, Ashima yang cantik dilahirkan di sebuah keluarga miskin. Pada suatu hari, ia menolong Ahei, seorang anak yatim yang sesat jalan dan membawanya pulang ke rumah. Ashima dan Ahei saling mencintai dan saling memperhatikan sampai akhirnya menuju ke pelaminan. Sementara itu, ayah Ashima mengajarkan kepandaian memanah yang luar biasa kepada Ahei.

Namun, kisah cinta antara Ashima dan Ahei tidak selalu mulus. Pada suatu hari, Ashima yang berparas sangat cantik dirampas oleh putra tuan tanah. Ahei lalu mengejarnya dengan menunggang kuda dan membawa panah sakti. Tuan tanah melepaskan tiga ekor harimau untuk menerkam Ahei, namun Ahei dapat lolos dari maut dan ketiga binatang buas itu mati dipanah oleh Ahei. Ashima pun dapat diselamatkan. Kemudian, Ashima dan Ahei melarikan diri ke gunung di sekitar Hutan Batu dan mendirikan keluarga di sana serta beranak cucu, itulah asal muasal etnis Shani.

Begitulah kira-kira kisah tentang Ashima yang menarik.

Seluruh Hutan Batu bagaikan sebuah lukisan alam raya yang menakjubkan, menggetarka hati dan tak kunjung habis direnungkan. Seorang wisatawan dari Italia mengutarakan kesannya setelah menyaksikan pemandangan di Hutan Batu:

Sungguh sangat indah. Topografi karst seperti ini sangat terkenal di dunia. Di Italia juga ada, dan saya merasa terkejut bisa menemukan topografi aneh di Tiongkok yang mirip dengan yang ada di Italia. Apalagi cerita tentang batu-batu itu begitu indah dan menarik. Demikian kata seorang wisatawan dari Italia.

Tak terbilang banyaknya cerita dan dongeng rakyat tentang pemandangan beragam di Hutan Batu itu, dan cerita tentang Ashima hanya salah satu di antaranya. Itulah Hutan Batu, yang membentuk pemandangan menakjubkan dengan mengkombinasikan lanskap alam yang indah dengan lanskap budaya yang khas, dan menjadikannya obyek wisata yang menarik minat wisatawan manca negara.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s