Edelwies ( CERPEN )


Gambar
Edelwies
 
Karya : Muhammad Aliman Shahmi
 
Petang yang indah. Langit terlihat begitu anggun dengan perpaduan warna biru muda dan putih dengan sedikit warna jingga yang membias diantara perpaduan  anggun itu. Marapi dan Singgalang berdiri kokoh bak sepasang kekasih setia sehidup semati,layaknya cinta sejati namun terlarang yang dikutuk menjadi dua gunung besar. Terlihat anggun sekali, seolah tersenyum dan mengisyaratkan kepada semua yang melihatnya petang ini bahwa mereka akan tetap beridiri kokoh dan menjaga semua keindahan ini. Alam memang sangat romantis.
Rasanya, Bukittinggi memang dianugerahi pemadangan terindah sore ini. Apalagi, jika semua keindahan itu dinikmati dari taman kota yang terletak di atas bukit kecil yang berada persis satu kilometer dari objek wisata jam gadang. Taman yang indah dengan berbagai macam tanaman hias dan rerumputan yang menghanpar bak permadani hijau yang indahnya melebihi permadani istana kerajaan Pagaruyung . Belum lagi, sebuah bangunan besar bergonjong khas tradisional Minangkabau yang dijadikan sebagai pusat pemerintahan kota Bukittinggi saat ini. Semuanya terasa begitu kompleks, keindahan alam yang menyatu dengan keindahan yang ditata oleh Manusia. Jika ada yang menanyakan tempat apa yang bisa dijadikan sebagai tempat yang nyaman dan romantis, mungkin semua yang mengetahui taman ini akan dengan lantang mengatakan bahwa taman ini adalah tempatnya.
Lihatkah, puluhan manusia memenuhi taman ini dengan beragam keceriaan yang terlihat diwajah mereka. Tiada tampak sedikitpun guratan wajah kegalauan apalagi kesedihan di taman ini, semuanya ceria. Tak terkecuali, tiga sekawan yang tidak  pernah melewatkan akhir pekan di taman ini. Rani, Rian, dan Dahlan. Dari jaman SMA sampai mereka berhasil menyelasaikan pendidikan sarjana. Taman ini selalu menjadi tempat bagi mereka untuk melepaskan penat, berbagi cerita, mencurahkan keluhan masing-masing, hingga masalah percintaan masa muda yang selalu diselesaikan dengan hal-hal bodoh yang membuat masalah percintaan itu lenyap seketika dan hingga saat ini, tiada satupun di antara mereka yang memiliki kekasih. Ya, semenjak persahabatan ini dibina.
“ Aku rasa, taman ini lebih tepat dikatakan sebagai simbol cinta sejati namun bodoh, konyol, namun awet.” Dahlan memecah lamunan dua sahabatnya yang sedari tadi tengah asyik menikmati pemadangan kota dari sudut taman itu,
“ aik..? simbol cinta sejati yang bodoh ?  kau bicara seperti itu apa karena tangisan kau hilang di taman ini setelah di tolak mentah-mentah oleh Delia pada jaman SMA dulu ya? Aku masih ingat, waktu itu kau dengan tanpa malu sedikitpun menangis keras-keras di taman ini. Hmm, ya, waktu itu hujan deras. Aku dan Rani tengah berteduh di dekat warung nasi  yang ada disebelah Kantor Walikota waktu itu.” Rian menanggapi perkataaan Dahlan dengan raut muka penuh tanda tanya walaupun pada akhirnya menduga-duga dengan menyebutkan aib masa lalu si Dahlan
“ Iya, aku ingat. Waktu itu kau ambil air hujan yang sudah tercampur dengan bekas pencucian piring yang ada di belakang kedai itu dan kau serta merta berlari ke arah Dahlan dan menyiraminya dengan air itu. Seraya berkata ‘berisik..!, kau mengganggu kemesraanku dengan hujan’ dan entah kenapa, tangis Dahlanpun reda,mendahului redanya hujan“ Rani ikut menambahkan cerita Rian seraya melemparkan pandangan ke arah Dahlan dengan tatapan yang hendak menyudutkan.
“ Riaaaaan…!!!, tak habis-habis lah kau sebutkan aib masa laluku itu jika aku membicarakan pasal cinta, macam kau memiliki reputasi yang bagus saja tentang cinta. Kau pun sama, jangankan memiliki hubungan dengan perempuan, suka dengan perempuanpun aku rasa tidak ada. Sebab, selama ini kau hanya memuji ketampanan lelaki, bukan kecantikan perempuan,”
“ Eh..eh, kau bilang apa tadi? Aku tak  suka perempuan..? apa pasal kau sebut aku macam tu?  Buktinya apa..? kau jangan hendak mengalihkan pembicaraan ya..!,”
“ Ya buktinya dulu, ketika masih di SMA. Kau sering katakan ke teman-teman perempuan kau kalau aku ini tampan kan? Ayo, di dekat kantin Onang, kau sering menggoda perempuan dengan menjual ketampananku ‘hai, kau sudah punya pacar belum? Temanku ini jomblo lho, dia tampan bukan?
“ Sial, itu karena aku kasihan saja dengan kau Dahlan. Bukankah kau selalu murung dan tiada semangat hidup setelah kau di tolak Delia? Makanya aku berlagak bak salesman yang kian kemari mempromosikan kau ke teman-temanku. Agar  yang aku promosikan itu laku dan tidak membebaniku lagi. Bukannya aku tak suka dengan dengan perempuan, apalagi nada bicara kau tadi yang seolah mengatakan kalau aku ini lelaki yang memiliki ‘orientasi’ yang berbeda, alias gay. Tetapi aku hanya mencoba bijak dalam hal percintaan”
“ Lah, jangan berkilah terus kau Rian. Bukti dah nyata, hahahahha”
“ Kau..!!, itu karena…” Belum sempat hendak melanjutkan kata-katanya, tiba-tiba Rani memotong perkataan Rian.
“ Hahahha, sudahlah.., kalian jangan bertingkah macam anak kecil lagi. Apa kalian tidak malu? Ingat, sekarang umur kalian sudah hampir seperempat abad. Malulah..!!, belum lagi di tengah-tengah kalian ini ada Bidadari jelita yang semestinya semua lelaki yang ada di sekitarnya menjaga sikap. Bertingkah bak para pangeran dari beberapa kerajaan yang tengah melakukan sayembara untuk mendapatkan cinta sang Bidadari Jelita ini.”
“ Iyaa.., Bidadari Kampuang Pisang..!! hahahahha.” Sontak ketegangan antara Dahlan dan Rian berubah menjadi tawa lepas karena mendengar perkataan Rani yang menyebut dirinya  sebagai Bidadari. Kampuang Pisang? Itu nama sebuah desa kecil yang ada di kawasan ngarai sianok. Kampung halaman Rani yang konon katanya merupakan penghasil pisang terbesar di kawasan kota Bukittinggi. Makanya disebut Bidadari Kampuang Pisang.
 Sebenarnya Rani memang pantas disebut bidadari. Wajahnya yang cantik dengan hidungnya yang mancung,senyumnya yang  melebihi keindahan Pulau Tidung,kepala yang selalu dimahkotai kerudung,hanya saja, hingga saat ini belum ada lelaki yang beruntung.
“ Tak kusangka, sudah hampir sepuluh tahun kita menjalin persahabatan   dan kita selalu menghabiskan akhir pekan di taman ini. Akupun bangga dengan kita yang telah  sukses dan menggapai impian masing-masing. Dahlan sukses mencapai cita-citanya sebagai arsitek, Rian sebagai manajer muda, dan Aku, Alhamdulillah sudah mencapai cita-citaku sebagai dokter.”
“ Hah..? Engkau sudah jadi manajer Ian? di Perusahaan apa ? aku kira kau akan sudah dengan nyaman meneruskan bisnis konveksi keluarga kau” Dahlan bertanya heran karena mendengar perkataan Rani tadi.
“ Iyaa, aku merahasiakan kepada kalian kalau selama ini aku adalah karyawan di PT Semen Padang. Dan Alhamdulillah, aku di promosikan menjadi Manajer Pamasaran dan Sekarang aku berhasil mencapai posisi itu. Masalah bisnis konveksi, aku tetap mengawasi dari jauh dan memantau langsung seminggu sekali. Karena itulah kalian selalu bisa menemuiku di akhir pekan dan bisa berkumpul di taman ini ”
“ Alamak, engkau memang tak berubah dari dulu Ian. Selalu saja tak puas dengan apa yang telah kau capai dan kau miliki. Sebelumnya aku sudah berfikir kalau kau telah  berubah. Merasa puas setelah meraih gelar Sarjana Ekonomi dan fokus pada bisnis keluarga. Ternyata aku salah.”
“ Haha, tak kan lah kubiarkan engkau mengungguli aku, Dahlan. “
“ Oh iya, jumat depan ada acara reuni anggota Sispala dan Pramuka  angkatan kita dulu. Kabarnya, acaran reunian nanti rencananya tracking ke Marapi, sekalian camping bersama di taman Edelwies..” Rani menyela, mengutarakan rencana alumni organisasi mereka sewaktu SMA dulu.
“ Wah, rencana bagus dan selama ini aku tunggu-tunggu. Sudah lama sekali kita tidak trackingke Marapi. “ Dahlan berseru semangat
“ Engkau mesti ikut Ian, Aku dengar Delia juga ikut serta. Rugi sekali kalau kau tak ikut. Siapa tahu, hatinya luluh ketika melihat kau yang sekarang” Rani menyemangati Dahlan, menguatkan dia dengan keikutsertaan Delian di acara tracking nanti.
“ Aku tak bisa ikut” Rian mengeluh kecewa
“ Lah.., kenapa kau tak ikut Ian? ini moment yang bagus. Sudah lama kita melakukan tracking pendakian bersama. Sayang sekali kalau kau tak ikut. Alaaaah, payah lah kau.” Dahlan berseru kecewa
“ Aku juga sudah lama merindukan moment ini, bahkan sudah lama sekali. Namun senin depan aku harus berangkat ke Bandung untuk   mengikuti pelatihan selama seminggu. Waktunya tidak pas, padahal aku ingin sekali ikut”
“ Yaah.., Rian….” Rani pun ikut mengeluh kecewa
“ Hmm, ya sudahlah. Kalau memang demikian. Huft…” Dahlanpun akhirnya mengeluh seraya menyeka peluh di lehernya
“ Kalian pakai saja semua peralatanku. Tenda,carrier, nesting, trangea, dan semua perlengkapan makanan kalian ambil saja di kedai Mak Datuak di depan rumahku. Bilang saja, aku yang bayar semuanya.”
“ Hah..? sungguh….?!!” seru Rani dan Dahlan bersamaan
“ iya, kalian gunakan saja. Oh iya,acaranya jumat bukan? Berarti minggu sudah kembali, jadi aku sempat bertemu kalian nantinya. Soalnya hari minggu itu aku sudah kembali dari Bandung.”
“ Baiklah, semoga saja minggu depan ketika bertemu dan semoga nanti kau tidak terkejut Ian. Pokoknya, ada hal besar yang akan aku lakukan di Marapi nanti.” Dahlan menyeringai seraya megacungkan telunjuknya ke arah Rian.
“ Maksud kau..?” Rian berseru heran
“ Kau lihat saja nanti. Ya sudah, ayo balik..! sudah hampir maghrib. Aku mau cepat-cepat pulang. Selepas Isya nanti aku harus segera kembali ke Padang.”
“ Ah kau, bikin penasaran saja. Ya sudahlah, ayo balik. Eh Rani, kau ke Kampung Pisang naik apa..? naik angkot merah nomor dua belas? Jam segini sudah tidak ada. Kau berlari saja minta antarkan sama monyet ngarai sianok. Aku dengar, kalau malam-malam banyak jadi tukang ojek ayun. Jadi kau bisa cepat sampai ke sana. Hahaha”
“ Rian….!!!!, kau bisa diam tidak dan berhenti mengusiliku..!!” Rani menggeram seraya mendengus bak nenek-nenek sakit gigi yang digombali pereman mabuk.
“ Huahahhahahaha…” Rian dan Dahlan tertawa lepas ketika melihat tampang Rani.
Senjapun datang menyapa. Rian, Dahlan, dan Rani akhirnya meninggalkan taman itu bersamaan dengan adzan maghrib yang berkumandang memecah semua kumpulan yang ada di taman itu. Memang pamandangan tambahan yang menyejukkan hati. orang-orang beramai-ramai meninggalkan taman itu seketika muadzin mengumandangkan adzan. Seolah semua yang ada disana menyadari bahwa semua keindahan itu patut disyukuri dengan memenuhi panggilan illahi.
***
Sabtu sore di salah satu kedai kopi di pusat kota Bandung. Rian tengah menikmati waktu istirahatnya setelah melakukan Traning hari ini. Ya, hari ini adalah hari terakhir kegiatan Traning. Ia sengaja memilih warung kopi sebagai tempat istirahat sebelum kembali ke hotel disaat semua peserta Traning sibuk menghabiskan waktu luang ini untuk berbelanja di pusat perbelanjaan yang ada di kota ini.
Di kedai kopi ini, sambil menyeduh kopi hitam dengan ditemani singkong goreng yang masih hangat. Pikiran Rian kembali tertuju kepada teman-temannya yang sedang reunian di Marapi saat ini. Terutama dua sahabat dekatnya yang minggu lalu begitu kecewa saat mengetahui dirinya tidak bisa ikut menyertai mereka dalam acara reuni itu. Rasanya begitu sesak karena ia sebenarnya juga memiliki rencana bersama sahabatnya itu di puncak gunung itu.
Ketika tengah asyik menikmati kopi hitam dan singkong goreng itu. Tiba-tiba perhatian Rian tertuju pada televisi yang ada di warung itu. Saat itu pemilik kedai tengah menyetel siaran berita dari salah satu stasiun televisi swasta nasional.
“ Pak.., maaf, bisa tolong dibesarkan sedikit volume suaranya pak? Saya mau mendengarkan berita itu lebih jelas lagi.” Rian berseru kepada pemilik kedai seraya beringsut mendekat ke arah televisi.
“ Baik Aa’ “ pemilik kedai langsung menambah volume suara televisi itu.
“Dua belas orang pendaki asal Bukittinggi di kabarkan hilang saat mendaki Gunung Marapi, Sumatera Barat. Para pendaki tersebut dikabarkan kehilangan kontak dengan petugas posko pendakian semenjak Sabtu pagi saat cuaca buruk melanda kawasan Gunung tersebut. Menurut info yang didapatkan dari petugas, para pendaki tersebut merupakan rombongan alumni Pramuka dan Sispala SMAN 6 Bukittinggi yang melakukan pendakian semenjak Rabu pagi. Petugas mengetahui kehilangan pendaki ini saat petugas menghubungi ketua Rombongan dari pendaki tersebut, Dahlan. Saat itu petugas memberikan ultimatum kepada semua pendaki untuk menjauhi berhati-hati dan menjauhi kewasan puncak,namun petugas tidak bisa menghubungi rombongan in. Kecurigaan itu timbul saat diketahui bahwa pendaki tersebut melakukan pendakian semenjak tiga hari yang lalu dan pernyataan dari keluarga pendaki bahwa mereka belum pulang sama sekali. Saat ini Tim SAR Gabungan dibantu Basarnas telah mulai  melakukan pencarian semenjak siang tadi dan sampai saat ini masih belum ada laporan…”
“ Alumni Sispala dan Pramuka SMAN 6? Apakah itu rombongan angkatanku dulu? Tapi, bukannya Mereka melakukan pendakian Jumat pagi?” Rian bergumam heran, ada sedikit kerisauan di dalam hatinya.
“ Aku harus segera memastikan kabar ini, aku akan menghubungi orang tua Dahlan….” belum sempat hendak menghubungi orang tuanya Dahlan. Tiba-tiba handphone-nya Rian berbunyi, ada panggilan masuk. Ternyata dari Fauzi, teman satu angkatan dengannya.
“ Asslamualaikum zi..”
waalaikumsalah ian.., kau sudah dapat kabar perihal kehilangan rombongan pendaki di Marapi? Itu alumni angkatan kita. Kau dimana sekarang?”  suara Fauzi terdengar tergesa-gesa cemas.
“ Apa.? Jadi benar itu Rombongan angkatan kita. Astaga Dahlan dan Rani ikut serta bersama mereka. Tetapi bukannya mereka berencana berangkatnya hari jum’at . Di berita aku dengar hari Rabu. Kau yang benar saja, Zi.”
“  Iya, awalnya aku juga akan ikut serta di rombongan itu. Tetapi mendadak mereka mengubah jadwal keberangkatan menjadi hari rabu. Alasannya mereka mendapatkan cuti lebih awal. Makanya aku tidak ikut. Kau dimana sekarang? Aku hendak mengajak kau menyusul mereka. Bergabung dengan Tim SAR melakukan pencarian”
“ Aku sekarang di Bandung. Lalu bagaimana ini? Aduuh,”
“ Alamak, bagaimana ini. Aku tiada kawan hendak berangkat,perlatanku juga dipinjam sama mereka.”
“ Baik, aku akan segera terbang ke Padang Malam ini juga. Masalah peralatan, kau ambil saja di rumahku.., aduh terlupa pula. Peralatanku juga di bawa mereka. Atau, sekarang begini saja, aku transfer uang. Kau beli semua yang kita butuhkan. Nanti, kita langsung berangkat ok.!!”
“Ok, aku tunggu. Sampai nanti Ian,.”
Sontak suasana menjadi tegang. Rian sesegera mungkin menghubungi asistennya untuk mencarikan tiket penerbangan menuju Padang malam ini.
“ Maaf pak, malam ini tidak ada penerbangan dari Bandung menuju Padang. Adanya Cuma dari Jakarta, berangkat pukul 22.00, bagaimana pak?” Asisten Rian melaporkan perihal tiket penerbangan menuju Padang malam ini.
“ Hmm, Ok. Kau booking-kan tiket itu segera dan carikan aku taksi menuju Bandara Soekarno-Hatta sekarang. Aku rasa masih sempat, sekarang baru pukul enam sore. “
“ B..bbaik pak., “ Asisten Rian segera memesann tiket penerbangan Jakarta-Padang dan mencarikan taksi.
Lima belas menit kemudian, taksi yang dipesanpun sampai di hotel dimana Rian menginap. Ia langsung berangkat tanpa mempedulikan barang-barangnya yang masih tertinggal di kamar hotel. Pikirannya sudah berkecamuk dengan segala perasaan yang bergejolak didalam hatinya. Semuanya menyesakkan dada. Hingga butiran-butiran bening  mulai mengalir dari matanya.
***
“ Halo, Zi.! Engkau dimana sekarang? Aku sudah sampai di Padang,” waktu menunjukkan pukul 23.30. Ian baru saja sampai di Bandara Internasional Minangkabau, Padang.  
Iya Ian. Aku sekarang masih di rumah . Di sini hujan deras sekali. Engkau yakin akan menyusul ke Marapi malam ini juga? “ Fauzi menyahut dengan nada bicara sedikit ragu.
“ Harus malam ini juga!! Tidak bisa di tunda lagi. Kau sudah beli semua peralatan yang kubilang tadi? Perlengkapan makanan, obat-obatan?”
“ Su..s..sudah, ok. Kita bertemu di Pasar Koto Baru. Aku akan berangkat sekarang juga dengan menggunakan mobil.”
“ Ok, aku sampai ketemu.”
Baru saja keluar dari kawasan Bandara. Rian langsung berangkat menuju Pasar Koto Baru,Padang Panjang dengan menggunakan taksi. Pasar itu merupakan tempat dimana para pendaki baik yang ke Marapi atau Singgalang berkumpul.
Rian sangat bersyukur. Kota Padang khususnya di kawasan Bandara di turun hujan. Sehingga tidak hambatan ketika pesawat hendak mendarat. Meskipun saat itu di daerah sekitar Gunung Marapi dan Singgalang tengah turun hujan lebat.
***
Taksi melaju dengan kecepatan sedang. Saat itu, Rian sudah memasuki kota Padang Panjang. Hujan masih turun dengan derasnya. Kondisi seperti sedikit mengaburkan penglihatan pengemudi mobil saat itu. Jalanan terlihat agak sepi. Di sepanjang jalan  hanya terlihat beberapa sepeda motor yang tengah parkir di depan gerai-gerai yang berjejer di tepi jalan Padang- Bukittinggi.
Tepat pada pukul satu dinihari. Rian sampai di Pasar Koto Baru. Di sana sudah terlihat Fauzi tengah menunggu bersama  mobil avanzanya.
“ Pak, berhenti di pasar  saja. Di dekat mobil avanza silver itu. Teman saya sudah menunggu disana” Seru Rian seraya menunjuk ke arah mobil avanza yang parkir di depan pasar.
“ Baik, Pak.” Taksi menepi masuk ke dalam kawasan pasar. Mendekati mobil avanza yang tengah parkir di depan pasar.
“ Ini pak, terima kasih..” Seru Rian seraya memberikan uang seratus ribuan sebanyak dua lembar.
“ Ini kembaliannya pak “ Si sopir menyodorkan uang lima puluh ribu.
“ sudah pak, ambil saja kembaliannya “ sahut Rian seraya beregegas  keluar dari taksi itu.
Rian segera mendekati Fauzi .
“ Maaf menunggu lama..” Sapa Rian dengan nada bicara yang sedikit dingin.
“ Tak apa., kita berangkat sekarang? “
“ Iya , sekarang. Kita harus buru-buru. Persetan dengan cuaca, kita harus segera menyusul”
“ Baiklah, perlengkapan semuanya sudah ada di mobil. Kau segera ganti baju , aku sudah persiapkan semuanya. Ganti saja di dalam. Kita berangkat sekarang”
Tanpa banyak bicara lagi. Rian dan Fauzi langsung bergegas berangakat menuju pos pendakian yang jaraknya kira-kira lima kilometer dari pasar itu. Hujan masih enggan untuk berhenti. Memang, ada sedikit keraguan dari Fauzi untuk tetap berangkat malam ini. Namun, ia enggan untuk mengikuti keraguannya itu pasal wajah Rian terlihat sangat dingin dan tidak bersahabat. Rasanya mengutarakan keraguannya itu hanya akan memancing amarah Rian.
Lima belas menit kemudian. Rian dan Fauzi akhirnya sampai di pos pendakian pertama. Disana sudah terlihat beberapa rombongan pendaki yang tengah beristirahat dan beberapa orang berseragam orange yang tengah bersiaga di pos pendakian tersebut.
“ Ayo, kita sudah sampai “ Seru Fauzi mengajak Rian turun setelah memarkirkan mobilnya di depan pos.
Rian dan Fauzi bergegas turun dari mobil dan menuju pos pendakian. Semua perlengkapan sudah siap, tak terkecuali baju tebal berlapis parasut. Mereka langsung mendekati sekelompok orang berbaju orange yang tengah bersiaga di depan pos.
“ Selamat malam pak, kami ini teman dari para pendaki yang dikabarkan hilang tadi pagi. Kami bermaksud hendak ikut dalam pencarian.“ Fauzi menyapa petugas tersebut. Sementara Rian masih diam dengan tatapan yang dingin
“ Selamat malam! Oh kalian teman-teman dari mereka. Ya, kalian bisa bergabung dengan tim yang akan berangkat besok pagi. Saat ini cuaca tidak memungkinkan untuk menyusul tim yang sudah berangkat tadi siang. Kami juga terus memantau perkembangan, harapan kita teman-teman kalian  ditemukan secepat mungkin. Jadi kita tidak perlu mengerahkan banyak orang dalam pencarian. “ jawab petugas ramah.
“ Ayo zi, kita lekas berangkat. Kita tidak bisa menunggu lagi.” Tanpa menghiraukan saran dari petugas. Rian langsung menarik Fauzi menjauh dari petugas tersebut dan langsung mengajak Fauzi meneruskan perjalanan.
“ Tapi Ian…” Belum sempat hendak melanjutkan pembicaraan, Rian keburu memotong.
“ Kalau kau ragu, silahkan tinggal di sini. Duduk manis dengan petugas itu, menyeduh kopi panas, dan terus tidur dengan selimut tebal hingga pagi. Aku akan melanjutkan perjalanan ini sendirian.” Tegas Rian dengan tatapan yang tajam dan menakutkan.
“ Baiklah.., aku akan ikut dengan kau. Tak akan lah kubiarkan temanku yang bela-belaan pulang dari Bandung pergi sendirian. Ayo, gunakan jas hujan yang telah ku beli tadi. Lihat! Hujan semakin deras.” Fauzi melepaskan keraguannya. Berkata dingin, berusaha menutupi ketakutannya akan kemungkinan buruk yang ia alami nantinya.
Tanpa banyak bicara lagi. Rian dan Fauzi langsung bergegas meninggalkan pos dan melanjutkan perjalanan. Mereka tidak menghiraukan sedikitpun cuaca yang semakin buruk dan suhu pegunungan yang sangat dingin. Di hati dan pikiran mereka hanya ada teman-teman mereka yang belum ditemukan hingga saat ini.
“ Kau tahu zi, bagiku teman adalah segalanya. Baik itu sahabat dekat ataupun mereka yang sama sekali tidak mengenaliku namun aku mengenalinya. Tiada yang kutakuti ketika ingin melindungi teman-temanku. Aku tidak akan menghentikan langkahku hingga aku bisa melihat mereka semua. Apalagi di antara mereka ada orang yang sangat aku cintai. Maafkan aku, jika ini semua menyusahkanmu,” Rian berbicara seraya melanjutkan langkah menempuh medan pendakian yang licin.
“ Kau tenang saja Ian, mereka juga teman-temanku. Akupun berfikir sama dengan kau, maafkan aku, aku masih sedikit takut. Aku berterima kasih, tekad dan keberaniamu sedikit mengurangi ketakutanku,” Fauzi menanggapi seraya mengukirkan senyum kepada Rian
“ Terima kasih. Ayo lanjut! Jangan risaukan medan yang licin dan hujan ini. Kita usahakan sebelum subuh kita sudah sampai di batas vegetasi. Mudah-mudahan hujan sudah reda ketika  kita sampai disana.” Sahut Rian dengan semangat seraya membalas senyuman Fauzi.
***
Di ketinggian 2650 mdpl. Jam menunjukkan Pukul 03.45 dini hari. Hujan belum menunjukkan tanda-tanda akan reda. Suhu udara semakin dingin saja. Kabut yang semakin tebal. Memperpendek jarak pandang dan semakin membahayakan perjalanan dikarenakan di kiri-kanan terdapat jurang yang sangat dalam.
Sudah hampir tiga jam Rian dan Fauzi menempuh jalur pendakian. Cuaca yang begitu dingin membuat Fauzi terlihat sedikit menggigil meskipun ia mencoba terus untuk menutupinya. Ditambah lagi sebagian dari pakaian yang ia kenakan basah sehingga itu semakin membuatnya kedinginan. Sementara Rian. Wajahnya semakin memperlihatkan ketakutan yang sangat mendalam. Terbayang kondisi dua belas orang temannya dalam kondisi cuaca yang seperti ini.
“ Ri..ri..an, apa masih jauh Ian? rasanya kita sudah berada di batas vegetasi. Engkau lihat di sini sudah sedikit sekali pepohonan. Namun sama sekali belum terlihat tanda-tanda keberadaan orang disini. Apa kau yakin Ian? ada pos darurat di sekitar sini?” Fauzi mulai terlihat cemas. Semakin ragu. Tubuhnya menggigil. Seperti tidak kuat lagi melanjutkan perjalanan.
“ Kau tenang Zi, kita baru memasuki kawasan batas vegetasi. Aku yakin, tidak jauh dari sini ada pos darurat. Ini hanya karena kabut yang begitu tebal. Sehingga jarak pandang kita sedikit terbatas. Bersabarlah.!” Rian mencoba tenang. Menepis semua ketakutan yang sebenarnya menyelimuti hatinya. Ia tidak mau temannya ini juga merasakan ketakutan yang sangat mendalam.
Beberapa menit kemudian. Ketika mereka sudah menyebrangi parit kecil yang ada dikawasan itu. Tiba-tiba…
“ Zi, kau lihat cahaya merah itu? Rasanya disana  ada beberapa kemah yang berdiri. Ayo lekas kita menuju kesana. Mudah-mudahan kita bisa mendapatkan informasi atau bantuan disana dan ku rasa kita memang harus beristirahat sejenak .” Seru Rian seraya menunjuk kearah cahaya merah yang terletak beberapa meter dari tempat mereka berdiri.
Tanpa bicara sepatah katapun. Fauzi langsung mengikuti langkah Rian menuju tempat yang dimana cahaya merah itu berada. Kabut yang begitu tebal, jalan licin dengan bebatuan cadas yang tajam membuat mereka harus berhati-hati. Belum lagi di kiri dan kanan jalan yang mereka tempuh terdapat jurang yang dalam.
Selang beberapa menit kemudian. Ketika mereka sudah sampai di dekat kemah-kemah itu didirikan. Tiba-tiba Rian berseru dengan kerasnya.
“ Fauzi, coba kau lihat kemah itu..!!” Seru Rian seraya mengarahkan lampu senter ke tenda doom yang hanya beberapa meter dari tempat ia berdiri.
“ Mana..? “ Fauzi bergegas menuju tempat Rian berdiri.
“ Itu..!, Bukannya itu mirip sekali dengan tenda doom kepunyaan kau. Tadi sewaktu di telpon kau bilang peralatan kau dipinjam semua bukan”
“ Iya., tidak salah lagi, itu tendaku yang kupinjamkan kepada Delia. Nah tenda yang satu itu, bukannya tenda kau Ian?” Fauzi juga mengarahkan senternya ke arah tenda yang berada persis di samping tenda yang ditunjukkan Rian tadi.
“ Iya benar, itu tenda yang kupinjamkan kepada Dahlan. Apa ini berarti…”
“ Maaf, kalian ini siapa? “ Tiba-tiba  orang berseragam orange  menghampiri mereka
“ Oh, Pak, maaf! Rasanya saya mengenali beberapa tenda yang ada disini. Apa di sini kemah para pendaki yang diberitakan hilang kemarin pak? Apa mereka sudah ditemukan? “ Rian langsung menanyakan perihal tenda-tenda yang ia lihat.
“ Oh iya, memang benar, ini kemah mereka. Mereka telah empat jam yang lalu di sekitar taman edelwies dan dibawa ke sini untuk di istirahatkan. Di sini adalah pos darurat, kami sengaja mengistirahatkan mereka di sini karena tidak memungkinkan untuk segera kembali ke pos utama,di bawah,cuaca begitu buruk. Apa kalian ini teman-teman mereka?”
“ Iya pak,kami ini adalah  teman-teman mereka yang awalnya hendak menyusul dan ikut melakukan pencarian. Lalu, bagaimana keadaan mereka sekarang pak?”
“ Sebagian dari mereka ada yang kondisinya lemah pada saat ditemukan tadi. Tetapi Alhmdulillah, mereka sudah pulih kembali. Sekarang mereka sedang beristirahat.”
“ Syukurlah, kami sangat senang mendengarkannya. “ wajah Rian langsung berubah cerah. Rasanya penatnya mendaki, menempuh medan yang licin disertai hujan lebat hilang setelah mendengarkan kabar ini.
“ Rian..,?” tiba-tiba seseorang keluar dari salah satu kemah yang ada di sana. Seorang perempuan.
“ Delia? Kau kah itu? “ Rian menanggapi panggilan itu seraya mengalihkan pandangannya ke sumber panggilan tersebut.
“ Iya Ian, ini aku. Astaga, kau menyusul Ian? bukankah kau seharusnya masih di Bandung saat ini?” Delia bertanya heran
“ Kau tahu Del. Seluruh Indonesia sudah mengetahui berita kehilangan kalian di gunung ini. Aku sengaja pulang lebih awal karena aku ingin ikut melakukan pencarian. Oh iya, Dahlan dan Rani mana? Bagaimana keadaan mereka?”
“ Dahlan, dia masih belum sadar. Tadi aku sudah memeriksa keadaannya, dia sudah sedikit membaik. Kita sama-sama berharap dia akan segera sadar.”
“ Kalau Rani bagaimana keadaanya?”
“ Kalau Rani..” Delia terdiam, ada sedikit perasaan yang sangat menyesakkan hati ketika ia menyebutkan nama itu.
“ Del, Rani bagaimana..? “ Rian mendadak cemas, melihat wajah Delia yang tiba-tiba terlihat seperti menyembunyikan.
“ Kau harus sabar Ian, Petugas akan segera melakukan pencarian kembali. Dia masih belum di temukan. Maafkan aku Ian, seharusnya aku terus berada disisinya sewaktu kami tersesat tadi. Kabut yang sangat tebal membuat aku kehilangan arah dan melupakan Rani yang saat itu terluka karena terpeleset. Maafkan aku Ian..” Delia tersungut sebak, penuh penyesalan, apalagi tatkala melihat Rian saat ini. Ia teringat curahan hati Rani sebelum ia hilang.
Tanpa berbicara sepatah katapun. Rian langsung meninggalkan Delia di depan tendanya. Menghampiri Fauzi yang saat itu tengah duduk melepas penat di depan api yang dinyalakan di dalam suatu wadah besi.
“ Fauzi, kau tetap tinggal disini. Tolong kau obati semua teman-teman  kita yang ada di sini.”  Wajah Rian Tiba-tiba terlihat begitu dingin. Nafasnya sesak. Sebak hati yang berusaha disembunyikan.
“ Engkau mau kemana? Kenapa wajahmu seperti itu?”
“Aku tidak akan membiarkan Rani sendirian di atas sana. Aku harus segera menemukannya.”
“ Maksud kau? Rani masih belum ada di sini? Dan kau akan melakukan pencarian sendiri saja?”
“ Apa? Engkau akan mencari temanmu sekarang? Jangan bertindak gila.!!, apa kau tidak bisa melihat cuaca sekarang hah? Kau mau cari mati?” Tiba-tiba, salah seorang petugas berbadan gempal menghampiri Rian dan Fauzi.
“ Persetan dengan cuaca. Aku tidak peduli! Aku harus segera menemukan temanku. Aku tidak bisa menunggu lagi!” Rian berseru tegas, tak peduli seberapa menyeramkannya petugas yang mencegahnya tadi.
“ Kau ini mau mati hah? Kami saja sudah tidak sanggup lagi dengan cuaca yang seperti ini. Lah,kau. Nak berlagak macam pahlawan, bodoh! Kau sangka  medan perjalanan menuju taman edelwies itu seperti perjalanan dari rumah kau menuju Jam Gadang hah? Bersabarlah sikit!, cuaca seperti ini bisa membunuh kau!” Petugas itu semakin garang. Perawakannya yang tinggi gempal membuat ia semakin terlihat menyeramkan
“ Kau diam saja! Kau tidak mengerti apa-apa! Bagaimana aku bisa tetap diam disini kalau Temanku sendirian disana. Apalagi dengan cuaca seperti ini. Aku bukan orang seperti kau!, yang masih bisa menyeduh kopi panas dan manyantap roti tawar. Sementara nyawa seseorang terancam di atas sana. Jangan coba-coba mencegah langkahku!” Rian pun tak kalah tegasnya. Ia seolah tidak mempedulikan kegarangan petugas yang mencegahnya saat itu.
“ Kau..!!!” Petugas tersulut emosi. Beberapa dari mereka mencoba menenangkan. Teman-teman Rian yang saat itu masih beristirahat di dalam tenda langsung keluar karena kegaduhan tang terjadi di luar tenda. Mereka kaget, ada Rian di sana yang tengah di pegangi oleh Fauzi dan beberapa petugas berbaju orange  yang ada disana.
“ Rian? Sejak kapan kau ada di sini? Dan ada apa ini? kenapa ribut-ribut?” Fikri, salah satu teman Rian, baru keluar dari tenda dan langsung heran dengan situasi yang ada di luar. Apalagi ketika ia melihat Rian ada di sana.
“ Ini teman kau yang bodoh ini. Nak berlagak macam pahlawan, ingin melakukan pencarian sendiri. Nak cari mati..!!” Petugas tadi masih dengan emosinya. Sementara wajah Rian terlihat semakin dingin. Menatapi petugas itu dengan tatapan yang tajam.
“ Sudah, biarkan saja ia pergi! “ Fauzi tiba-tiba angkat bicara. Dengan tegas ia menyuruh kepada semua yang ada disana untuk membiarkan Rian melakukannya sendiri.
“ Kau..?!!” Petugas tadi semakin tersulut emosi tatkala Fauzi membenarkan tindakan Rian.
“ Kau yang benar saja zi, kita sudah cukup stres dengan memikirkan Rani yang sampai saat ini belum ditemukan. Sekarang Rian lagi, “ Fikri menyalahan tindakan Fauzi yang menyuruh semua yang ada disana agar membiarkan Rian tetap pergi.
“ Kau tidak tahu apa-apa Fik, dan kalian semua yang ada di sini tidak mengerti apa-apa. Jika saja Dahlan sudah sadar dan mengetahui hal ini. Ia mungkin akan memiliki sikap dan tindakan yang sama denganku. Menyetujui tindakan Rian melakukan pencarian sendirian. Kalian lupa hah? Siapa Rian? Dia pernah menjabat sebagai ketua divisi SAR di SISPALA sekolah kita dulu dan dia pun pernah menjalani pendidikan DIKSAR sewaktu kuliah dulu.”
“ Kau jangan ikut-ikutan bertindak bodoh zi! Kau hanya…”
“ Cukup Fik, sekarang kau lanjutkan saja istirahatmu. Urusan Rian usah kau risaukan! Dia tahu apa yang ia lakukan.”
“ Ini gila, sungguh gila. Kalian tidak faham sama sekali..!! coba kalian lihat kabut yang tebal itu, angin kencang dan hujan yang semakin lebat” Fikri masih bersikukuh menentang keputusan Rian.
“ Kau yang tidak faham, bodoh!!” Rian yang sedari tadi diam dan bersikap dingin tiba-tiba membentak Fikri. Semua yang disana kaget dengan sikap Rian tersebut.
“ Kau bilang aku bodoh?!” Fikri tidak terima
“ Iya bodoh, kau katakan cuaca yang buruk, kabut tebal, hujan deras. Namun kau tiada terfikirkan sedikitpun bagaimana kondisi Rani disana. Ok, mungkin bagi kau Rani tidak begitu berarti. Tapi coba aku tanya, jika kau berada di posisi ku saat ini, apa yang akan kau lakukan ? Bagaimana perasaan kau jika sahabat terdekat kau tinggal sendirian di tengah kondisi alam yang seperti ini? bagaimana perasaan kau jika orang yang kau cintai secara diam-diam selama sepuluh tahun kedinginan tiada pelindung dan penghangat sedikitpun. Dan kau tidak bisa memastikan dimana dia sekarang berada. Kau fikirkan itu Fik!, fikirkan! Dia itu perempuan, sendirian ditempat yang tidak jelas dan berbahaya.
“ Untuk kalian semua yang ada di tempat ini. Dengarkan aku baik-baik! Sekuat apapun kalian mencegahku agar tidak  pergi sekarang. Itu hanya akan sia-sia. Aku tetap akan pergi. Dan aku tegaskan. Aku akan tetap kembali ke sini bersama Rani. Baik itu aku dan Rani kembali dalam keadaan sama-sama hidup, atau Aku kembali dengan jasad Rani saja, atau yang kembali hanya nama kami berdua. Aku sudah siap dengan apa yang akan ku hadapi nanti. Nyawaku, kupertaruhan di sini, demi Rani.” Penuh emsional, Rian menyatakan tekadnya dengan mata yang berkaca-kaca.
Semua yang di sana hanya bisa terdiam . Mereka tidak bisa berbicara apa-apa lagi. Fikri, yang awalnya begitu kokoh melarang Rian untuk pergi. Akhirnya tersungkur dengan tangisan yang tidak bisa ia bendung. Ia menyesal dan merasa bersalah . Menyesal karena sudah bersikap seolah tidak mengerti dengan apa yang Rian salahkan. Merasa bersalah karena ia tidak bisa melakukan apa-apa untuk Rian. Hendak ikut membantu, tetapi kondisi fisiknya sangat lemah karena terkena suhu ekstrim Gunung Marapi ketika tersesat tadi.
“ Fauzi, aku percayakan semua teman kita kepada kau. Kau rawatlah mereka hingga mereka benar-benar pulih. Mudah-mudahan cuaca buruk ini akan segera berakhir dan semuanya bisa menuruni gunung ini dengan mudah.  Dan kau Delia, rawatlah Dahlan. Perhatikan makannya. Jika ia kedinginan,kau pakaikan jaket tebal kulit yang kubawakan ini. Jika ia masih merasa tidak nyaman, kau balurkan balsem ke lehernya.”
“ Untuk semuanya,  ini aku punya dua handphone. Yang satu aku tinggalkan di sini bersama kalian dan yang satunya lagi aku bawa. Ini masih full battery dan sengaja aku persiapkan jika berada dalam kondisi seperti ini. Karena aku tahu, alat komunikasi kalian sudah mati semua karena habisbattery.Aku akan kabarkan melalui handphone ini kepada  kalian jika nanti ada perkembangan.”
“ Oiya satu lagi, Jika menjelang Senin sore masih tidak kabar dariku. Jangan terlalu lama menunggu. Kalian silahkan turun meninggalkan tempat ini. Jangan cari aku. Ingat apa yang kutegaskan tadi. Aku akan tetap kembali,meskipun hanya dengan nama.”
Tiada satu patah katapun yang keluar dari mereka yang berada di perkemahan kecil itu. Termasuk petugas berseragam orange yang tadinya terlihat  begitu marah kepada Rian. Delia tak kuasa menahan tangis setelah mendengar kata-kata Rian tadi. Fauzi hanya terdiam, memaksa dirinya agar tidak terbangun. Sementara Fikri, dengan sesungutan ia meraih Rian dan memeluknya erat.
“ Kau hati-hati Ian. Maafkan aku. Aku berharap kau dan Rani kembali dalam keadaan sehat. Aku tunggu kabar baik itu.”
“ Kau tenang saja Fik. Sudah, hentikan tangismu. Jangan sampai membangunkan sembilan orang teman kita masih beristirahat. Tolong jaga mereka semua. Bantu Fauzi dan Delia, ya” Ucap Rian dengan senyum seraya menghapus air mata Fikri dengan ujung tangannya.
“ Delia, jika Dahlan menanyakan Rani. Katakan saja ia bersamaku, bilang aku menyusul dan mengajak Rani ke Taman Edelwies.”
“ B…ba…ik Ian “ Jawab Delia  yang masih sesungukan.
“ Baiklah, aku pergi sekarang. Doakan aku.”
Rian akhirnya pergi meninggalkan perkemahan kecil itu dan berjalan ke arah puncak Marapi. Seperti halnya ketika berangkat tadi. Hujan lebat, angin kencang, dan suhu udara yang dingin ia abaikan begitu saja. Sementara teman-temannya hanya bisa menatap dengan tatapan pasrah namun penuh harap. Berharap alam berbaik hati dan membantunya dalam menyelesaikan semua ini.
***
Keberadaan matahari sudah mulai dirasakan. Meskipun hujan masih turun di sertai angin kencang dan kabut yang semakin tebal. Pandangan hanya bisa melihat batu-batu keras dan tajam yang terletak hanya lima meter dari pandangan. Dan Aroma belerang terasa semakin menyengat. Bahkan mampu masuk menembus penutu hidung. Ya, ini kawasan puncak,sangat dekat dengan kawah utama dan tidak jauh dari taman Edelwies.
Jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Sudah lebih tiga jam Rian menempuh perjalanan dari perkemahan tadi hingga ia sampai di kawasan taman Edelwies yang letaknya tidak jauh dari puncak utama Gunung Marapi, Puncak Merpati. Dan sampai saat ini, ia masih belum menemukan tanda-tanda keberadaan Rani.
Perjalanan masih terus dilanjutkan. Sesekali ia terpleset dan tangannya mengenai batu-batu cadas yang tajam ketika menopang badannya saat terpleset. Suasana saat itu sangat mencekam. Bunyi tiupan angin terdengar sangat menakutkan. Belum lagi hujan yang semakin deras.
“Apa aku harus berhenti di sini dan mendirikan kemah? Ah tidak, Rani masih belum di temukan. Aku tidak boleh berhenti. Tidak..” Rian bergumam. Menguatkan hati dan langkahnya. Ia harus tetap bertahan ia menemukan tanda-tanda keberadaan Rani.
Selang beberapa menit kemudian. Tepat di dekat kawah mati yang berada di sebelah utara taman edelwies. Tiba-tiba matanya tertuju pada benda berwarna merah tua yang tergeletak di bibir kawah mati tersebut. Ia langsung mendekati benda itu, berharap itu adalah petunjuk.
Ketika sudah sampai di dekat benda tersebut. Alangkah terkejutnya ia ketika ia mengetahui bahwa benda berwarna merah tua itu adalah ransel kepunyaan Rani. Serta merta hatinya berkecamuk. Melihat ransel tersebut hanya tergeletak di bibir kawah dan tanpa ada pemiliknya di sana.
“ Ini…? Tidak mungkin.., tidak mungkin, Rani….” Rian berteriak, meraung saat melihat Ransel itu tanpa pemiliknya di bibir kawah. hal itu semakin menakutkan ia karena kawah mati tersebut terkenal angker. Banyak yang  hilang dan hanya meninggalkan barang bawaan di sekitar kawah itu dan tidak akan bisa di temukan lagi.
Namun, ia masih belum menyerah. Ia yakin kalau Rani masih bisa ditemukan. Kemudian, dengan sisa-sisa tenaga yang ada. Maka ia berusaha mencari Rani di sekitar kawah tersebut. Berharap Rani masih berada di sekitar sana, tersembunyi di sekitar bebatuan, terhalangi oleh kabut tebal  dan hanya meninggalkan barang-barangnya disana.
Namun, semua itu seolah sia-sia saja. Setelah satu jam menyisir ke semua tempat yang ada di sekitar kawah tersebut. Tiada satupun tanda-tanda yang menyatakan  bahwa Rani bakal di temukan. Hanya ada batu-batu besar yang hanya bisa dilihat jika didekati, karena kabut yang semakin tebal.
“ Arrrgg.., Rani, Engkau dimana..???!”  Rian berlutut di bibir jurang yang berada tak jauh dari kawah mati tersebut. Meraung dengn raungan yang sangat memilukan.
“ Rani, bagaimana bisa aku kembali kalau kau tidak ditemukan? Arrrrrggh…”
“ Iaaan….” Tiba-tiba terdengar suara yang sayut-sayut sampai. Menggigil dan sangat lemah.
“ Rani..? kau kah itu? Ranii……” Rian kaget ketika mendengarkan suara itu. Meskipun terdengar kurang jelas. Namun ia memanggilnya kembali, berusaha meyakinkan
“ Iaaan.., tolong aku.., aku di bawah..” Benar. Itu adalah suara Rani yang terdengar dari dalam Gua kecil yang berada sedikit lebih ke bawah dari tempat Rian berdiri.
Secepatnya Rian turun menuju Gua tersebut. Dan ketika ia sampai di bibir gua, Alangkah terkejutnya ia ketika melihat Rani terbaring lemah dengan wajah yang sangat pucat dan menggigil.
“ Ian.., akhirnya kau datang juga ..”
“ Rani, kau harus ku bawah pindah ke atas. Kau pakai jaket tebalku ini. ayo kita pindah..”
“ Ian.., aku rasanya nyaman di sini. Tak usahlah kau berepot-repot membawaku ke atas”
“ Bodoh..! kau jangan bertingkah, di sini sangat dingin, kau turuti saja kata-kataku” 
“Sudahlah Ian, disini saja. Lebih aman, kau lihat hujan masih turun kan. Jika kita tetap disini, kita tidak akan terkena hujan” Rani terlihat semakin lemah. Wajahnya semakin pucat dan suaranya terdengar semakin memilukan.
“ Rani.., bisakah itu menuruti kata-kata orang mencintaimu ini hah..?? tolongalaaah Ran. Jangan bersikap seperti itu. “ Rian berseru dengan nada bicara yang sedikit serak. Sebak dan air matanya mulai mengalir
“ Kau mencintaiku? Sungguh? “
“ I..iiyaa..”
“ Kau lihat edelwies yang tumbuh serumpun di bibir gua itu? Aku ingin kau mengambilkannya untukku, setangkai saja”
Mendengarkan itu, maka bergegaslah Rian menuju bibir gua mengambilkan bunga edelwies itu beberapa tangkai untuk Rani.
“ Ini Ran..” Rian memberikan bunga Itu ke tangan Rani
“Terima kasih. Ian, kau bilang tadi kau  mencintaiku..?”
“ Iya Ran, semenjak sepuluh tahun yang lalu. Saat aku pertama kali mengenal kau..”
“ Bodoh! Kenapa kau tidak pernah menyatakannya? Hingga rela membiarkan diriku jomblo. “ kata Rani seraya mengukirkan senyuman dengan sisa-sisa tenaganya.
“ membiarkan  kau Jomblo? Jadi kau?” Rian bertanya heran
“ Iya, akupun sama mencintaimu dari sepuluh tahun yang lalu. Ian.., kau lihat bunga ini. kata orang bunga edelwies itu adalah simbol keabadian. Meskipun aku tak tahu mengapa bunga ini dikatakan seperti itu. Namun, kali ini aku ingin mempertegaskan bunga ini sebagai ke abadian. Aku ingin cinta kita ini aba……..” tiba-tiba Rani terdiam, wajahnya semakin pucat, bibirnya membiru..
“ Ran.. Rani. Kau tidak apa-apa kan? “ Rian mengguncangkan tubuh Rani, namun tiada reaksi.
“ Rani,…, rani.., tolonglah jangan bercanda! Ini tidak lucu!, Ayo Rani..,ku mohon!!, banguuuuun…” tiada reaksi sedikitpun. Tubuh Rani sudah kaku.
“Rani, jangan tinggalkan aku Rani.!, Rani…!! Ayo bangun Rani!! Kau akan kembali bersamaku. Kita sering-sering berkumpul lagi di taman Kota tempat biasa kita berkumpul, menjahili Dahlan. Dan aku janji akan senantiasa memanggilmu Bidadari tanpa menyertakan kampung Pisang. Ayo Rani.., banguuuuun.” Sia-sia, Rani hanya terdiam kaku dengan senyuman kelu dari bibirnya yang sudah membiru. Ia terlalu lemah dengan cuaca se-ekstrim ini bertahan. Dia kedinginan, sendirian, dan tanpa makanan sedikitpun di gua kecil ini selama lebih dua puluh empat jam. Ia sudah pergi, untuk selamamya dengan keabadian cintanya kepada Rian yang ia bawa hingga akhir dunia ini dan Sekuntum edelwies menjadi saksi dari semua itu.
Rian, tiada yang bisa ia lakukan lagi selain mengikhlaskan semua itu. Dengan tangisan yang sangat memilukan. Rian membungkus jasad Rani dengan sleeping bag dan membawa jasadnya pulang. Menuju tempat dimana teman-temannya berada. Tanpa hendak meminta pertolongan sedikitpun, ia membawanya sendiri.
 
=TAMAT=

 

NB : ini adalah pemenang lomba juara cerpen di pokjar selatan,untuk lebih jelasnya 

klik :http://www.pokjarselatan.com/2014/03/edelwies.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s