Pengertian Fitnah


.
  1. A.    Fitnah
  2. 1.      Pengertian Sikap Fitnah

Fitnah dalam bahasa Arab disebut dengan kata fitnatun, fitanun. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata fitnah diartikan sebagai perkataan yang bermaksud menjelekkan orang.

  1. 2.      Bentuk-bentuk Sikap Fitnah

Memfitnah adalah perbuatah yang buruk dan keji. Fitnah dapat berakibat fatal, baik bagi korban fitnah secara pribadi, maupun bagi keluarga, bahkan masyarakat. Karir seseorang bisa hancur gara-gara fitnah, hubungan suami istri dapat berantakan akibat fitnah, dan seseorang dapat menderita seumur hidup karena fitnah. Sehingga ada istilah dalam masyarakat kita bahwa fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan.

Fitnah dalam Alquran itu menyangkut sikap orang kafir terhadap Islam dan umatnya. Menurut Sayyid Qutub, yang dimaksud fitnah dalam Alquran adalah fitnah terhadap agama Islam dan umatnya, baik berupa ancaman, tekanan, dan teror secara fisik, maupun berupa sistem yang merusak, menyesatkan dan menjauhkan umat manusia dari sistem Allah.

  1. 3.      Nilai Negatif Sikap Fitnah

Keutuhan masyarakat tercipta apabila anggota-anggotanya saling mempercayai dan kasih mengasihi. Ini mengharuskan masing-masing anggota mengenal yang lain sebagai manusia yang baik, bahkan menganggapnya tidak memiliki keburukan. Dengan menggunjing, keburukan orang lain ditonjolkan, rasa percaya dan kasih itu sirna. Ketika itu benih perpecahan tertanam. Menggunjing apalagi memfitnah seseorang, berarti merusak keutuhan masyarakat satu demi satu, sehingga pada akhirnya meruntuhkan bangunan masyarakat.

Orang yang memfitnah dan menggunjing berarti menunjukkan kelemahan dan kemis-kinannya sendiri. Seandainya kuat dalam argumentasi, tentu tidak perlu mengada-ada. Apabila tidak miskin dalam pengetahuan, mestinya tidak perlu menjadikan keburukan orang sebagai bahan pembicaraan, masih banyak bahan pembicaraan yang lain.

Suatu ketika Nabi Isa a.s. bersama murid-muridnya menemukan bangkai binatang yang telah membusuk.Paramurid beliau berkata, “Alangkah busuk bau bangkai ini.” Mendengar itu Nabi Isa a.s. mengarahkan mereka sambil berkata, TJhatlah betapa putih giginya.” Dari kisah di atas dapat disimpulkan bahwa seseorang harus melihat sisi positif pada sesuatu yang negatif dan berusaha menemukan kebaikan dalam sesuatu yang terlihat buruk.

  1. 4.      Upaya Menghindari Sikap Fitnah

Untuk memelihara keutuhan masyarakat, Alquran dan sunah, dalam beberapa kasus tertentu, membenarkan ghibah. Allah swt. mengetahui bahwa terkadapg menyebut kebu­rukan orang lain yang memang benar adanya, tidak dapat dihindari. Karena itu dalam beberapa hal atau kasus dapat ditoleransi, yakni sebagai berikut.

a.    Saat meminta perlindungan kepada siapa yang dinilai mampu menghilangkan atau
meringankan keburukan yang dapat menimpanya.

b.    Menyampaikan kepada yang berwewenang dalam rangka memberantas keburukan
yang dapat menimpa orang lain.

c.    Meminta fatwa menyangkut keburukan serupa.

d.    Memberi peringatan orang lain tentang keburukan seseorang agar tidak ditimpa
kejahatannya, jika keburukan yang bersangkutan tidak ditutup-tutupinya.

e.    Memperkenalkan seseorang yang tidak dapat dikenal kecuali dengan menyebut
kekurangannya, seperti berkata, “Si C yang buta dan lumpuh.”

Adapun hikmah menghindari sikap memfitnah adalah sebagai berikut.

a.    Kedamaian dan ketenteraman.

b.    Menumbuhkan persaudaraan.

c.    Akan tercipta persatuan dan kesatuan.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s